Antara Wayang Hindu dan Wayang Islam, Bagaimanakah Pandangan Islam Tentang Wayang ?

A. Sejarah Wayang

Masuk-islam.com – Siapa yang tidak kenal dengan wayang, meskipun penampilannya mulai sangat tergusur tergerus jaman, tapi seni wayang masih tetap bisa eksis sampai sekarang walaupun sangat jarang.
Sejarah wayang di Indonesia berjalan lebih dari 1000 tahun. Periode wayang terbagi menjadi 3 : wayang pada masa animisme dinamisme, wayang pada masa hindu dan wayang pada masa penyebaran islam.

  • Wayang Sebelum Hindu

    Sejarah wayang menurut ‘masyarakat’ internet, telah ada sebelum agama Hindu dan Budha masuk wilayah Nusantara. Yaitu pada masa animisme dan dinamisme. Pada masa itu yang kini disebut wayang itu merupakan sarana upacara untuk menyembah leluhur yang dipimpin oleh seorang Syaman. Pemujaan roh nenek moyang itu disebut hyang atau dahyang yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Nenek moyang dahulu percaya bahwa arwah leluhur masih ingin berkomunikasi dengan para anak cucunya dan memberi wejangan. Melalui media wayang yang dijalankan oleh seorang dalang. Diipercaya oleh nenek moyang bahwa dengan media ini roh menyeberang dari dunia bayangan (alam arwah) ke alam ragawi dengan perantara mulut dalang.

  • Wayang Pada Masa Hindu

    Lalu masuklah budaya Hindu, sehingga cerita dalam wayang diganti dengan cerita dari Ramayana dan Mahabaratha. Pada masa ini bentuk wayang masih sama sebelumnya yang menyerupai releief atau arca yang ada di candi Borobudur maupun Prambanan. Cerita itu sendiri berasal dari India, meskipun masih ada muatan lokalnya seperti dalam lakon carangan tokoh-tokoh Punakawan yang merupakan sisa tokoh wayang sebelum masuknya agama Hindu ke Indonesia.

  • Wayang Pada Masa Islam

    Pementasan wayang tersebut sangat digemari masyarakat, sehingga setiap kali ada pementasan masyarakat menonton berbondong-bondong. Melihat hal tersebut Para wali berinisiatif menjadikan wayang sebagai media dakwah. Sebelum Walisongo menggunakan wayang sebagai media dakwah, terjadi perdebatan berkaitan unsur-unsur yang bertentangan dengan akidah. Sehingga para wali melakukan berbagai penyesuaian. Bentuk wayang pun dirubah dari yang awalnya berbentuk serupa manusia, menjadi bentuk yang dapat kita saksikan sekarang. Wajahnya miring, leher panjang, tangan panjang, kaki pendek dan bahannya terbuat dari kulit kerbau. Kemudian dalam cerita yang esensial disisipkan unsur-unsur Islam.

    Dalam lakon Bima suci misalnya, Bima sebagai tokoh utamanya diceritakan meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.

    Dalam sejarahnya,para Wali berperan besar dalam pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) dan mana yang harus dicari (Wayang Golek)”.

B. Wayang Dalam Pandangan Islam

Bagaimana pandangan Islam tentang seni wayang? Menarik untuk mengingat bahwa penyebaran Islam di Indonesia oleh Walisongo banyak dilakukan dengan memanfaatkan seni/pertujukan wayang, karena merupakan seni yang digemari rakyat sehingga lebih mudah digunakan untuk memasukkan ajaran/nilai-nilai baru. Dan siapa yang meragukan kesalihan dan tingkat keimanan Wali Sanga? Namanya juga wali, tentu sebagai muslim tingkat keislamannya jauh di atas rata-rata.

Justru melalui pertunjukan wayang nilai-nilai Islam diperkenalkan. Saya sendiri melihat nilai-nilai kebaikan yang ada pada cerita-cerita wayang selaras dengan Islam (dan juga agama-agama lain). Ambil contoh figur Pandawa Lima. Mereka mewakili nilai-nilai kebaikan dan kejujuran.

Yudhistira merepresentasikan figur yang utama: pemimpin yang adil, jujur, sabar, welas asih, bijaksana. Seperti yang lemah, dan seolah-olah kedudukannya hanya kokoh karena keperkasaan adik-adiknya (Harjuna, Bima, Nakula dan Sadewa). Tapi jangan lupa bahwa dibalik kelemahan tersebut terdapat kekuatan yang luar biasa, ingat peristiwa ajalnya Prabu Salya, seorang raja yang sakti melalui tangannya.

Bima mewakili kejujuran, ketegasan, keberanian, dan kekuatan fisik. Harjuna menggambarkan kejujuran, sifat kesatria, ketekunan dalam menuntut ilmu, dan keteguhan dalam meraih cita-cita. Nakula dan Sadewa mewakili sifat kesetiaan (pada saudara), sifat kesatria, kepandaian, dan keberanian.

Banyak lagi figur-figur lain yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan: Sri Kresna, Bhisma Dewabharata, Adipati Karna, Srikandhi, Bambang Ekalaya, Drupadi, dan lain-lain. Semua membawa nilai-nilai kebaikan, walau sebagai manusia mereka tentunya memiliki kelemahan masing-masing. Nilai-nilai kebaikan tersebut ada dalam semua agama termasuk Islam.

Selanjutnya, adakah nilai-nilai dalam kisah pewayangan yang tak sesuai dengan Islam? Ada, dan mungkin banyak. Maklum seni wayang umumnya dipercaya sebagai seni yang berasal dari ajaran agama Hindu.

Kemahatunggalan Tuhan (Allah) adalah hal yang paling terasa berbeda (bertentangan). Makanya kalau membuat tulisan wayang saya selalu mencoba menghindari cerita-cerita yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pemeliharaan alam semesta, yang dalam Islam semuanya merupakan kekuasaan mutlak Allah dan tak dibagi, sedang dalam cerita wayang (Hindu) hal ini merupakan wewenang dari banyak dewa. Masing-masing dewa berkuasa atas proses-proses di alam, seperti matahari, hujan, awan, dan lain-lain.

Reinkarnasi (penitisan) juga merupakan kepercayaan yang tak sesuai dengan Islam. Hal lain: perkawinan di luar nikah (misalnya cerita lahirnya Pandawa), perbuatan curang yang dilakukan kesatria (misalnya oleh Sri Kresna dan Harjuna), permainan dadu/judi (yang dilakukan oleh Yudhistira), keberpihakan pada kaum yang jahat (Adipati Karna yang memihak Kurawa), dan lain-lain. Hal-hal tersebut tidak dikatakan secara eksplisit sebagai dosa, walau sebagian memang diwujudkan dalam bentuk ‘karma’ (pembalasan atas perbuatan yang salah di masa lalu).

Kembali pada tema, saya kira pada dasarnya semua kembali pada diri kita masing-masing. Kalau Anda seorang muslim dan suka wayang, apakah dengan menyukai wayang Anda merasa makin baik atau tidak? Makin dekat dengan Allah atau tidak? Makin merasakan keindahan ajaran agama Islam atau tidak? Jawabnya mungkin berbeda untuk tiap orang, atau mungkin, seperti yang dilakukan oleh Wali Songo dulu, saatnya sekarang berdakwah lewat wayang?

Semoga Bermanfaat!

Sumber Referensi : sosbud.kompasiana.com/2012/12/18/seni-wayang-dalam-pandangan-islam–517627.html | islamwiki.blogspot.com/2012/10/sejarah-wayang.html

Comments
  1. choerul amal

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *