Fiqih Wanita : Darah-Darah Wanita (Darah Haid, Nifas,Wiladah dan Istihadhoh)

Fiqih wanita kali ini akan membahas lengkap mengenai darah-darah yang berhubungan dengan wanita seperti darah haid, nifas  istihadloh dan wiladah
darah haid nifas wiladah dan istihadhah

BAB 1 . HAID

A. Pengertian Haid

Haid atau yang di sebut dengan menstruasi secara bahasa berarti mengalir, sedangkan menurut arti syara’ haidl adalah darah yang keluar dari rahim wanita melalui alat kelamin wanita yang sudah mencapai usia 9 tahun kurang 16 hari kurang sedikit (Tahun Hijriyyah) penghitungan 9 tahun dengan tanggalan/tahun hijriyyah bukan masehi, sebab selisihnya akan sangat banyak sekali.
1 Tahun Hijriyyah = 354 hari 8 jam 48 menit ( kurang lebih )
1 Tahun Masehi = 365 Hari 6 jam
tinggal dikalikan selisihnya dalam kurun 9 tahun, dan keluar Secara alami bukan disebabkan melahirkan atau suatu penyakit.
Dengan demikian darah yang keluar ketika wanita belum berumur 9 tahun kurang 16 hari kurang sedikit atau disebabkan penyakit ataupun disebabkan melahirkan, tidak dinamakan darah haidl

B. Dalil Haid
Haidl adalah kodrat wanita yang tidak bisa dihindari dan sangat erat kaitannya dengan ibadahnya sehari hari. Alloh berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 222:

“mereka bertanya kepadamu tentang haidl katakan haidl adalah suatu kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidl dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Dan hadits nabi :
“ini (haidl) merupakan sesuatu yang telah ditaqdirkan Alloh kepada cucu-cucu wanita Adam (HR Bukhari dan muslim)

Hukum belajar ilmu haid
a.Fardlu ‘ain atas wanita yang sudah baligh
b.Fardlu kifayah atas orang laki-laki

Tanda-Tanda Baligh
Seorang anak dihukumi baligh apabila sudah memenuhi salah satu dari 4 tanda di bawah ini
1.Genap berumur 15 tahun Hijriah bagi laki-laki atau perempuan.
2.Keluar sperma pada usia minimal 9 tahun Hijriah, bagi laki-laki atau perempuan.
3.Haidl.
4.Hamil/melahirkan..

Batas Usia Wanita Haid
Minimal usia wanita mengeluarkan darah disebut darah haidl adalah 9 tahun qomariyah kurang 16 hari kurang sedikit, yaitu kurangnya waktu yang cukup untuk minimal suci dan minimal haidl. Sehingga jika ia mengeluarkan darah kurang dari usia tersebut, maka darah yang keluar tidak disebut darah haidl namun disebut darah istihadloh (penyakit).
Bila darah yang keluar sebagian pada usia haidl dan sebagian pada sebelum usia haidl, maka darah yang dihukumi haidl hanyalah darah yang keluar pada usia haidl.
Contoh: wanita usianya 9 tahun kurang 20 hari, mengeluarkan darah selama 10 hari, maka darah yang 4 hari pertama lebih sedikit dihukumi istihadloh, sedangkan yang 6 hari kurang sedikit dihukumi darah haidl.

Ketentuan darah haid
Darah yang keluar dihukumi darah haidl apabila memenuhi 4 syarat:

  • Keluar dari wanita yang usianya minimal 9 tahun kurang 16 hari kurang sedikit.
  • Darah yang keluar minimal sehari semalam jika keluar terus menerus, atau berjumlah 24 jam jika keluar terputus putus dan masih pada waktu 15 hari dari keluarnya darah yang pertama.
  • Tidak lebih 15 hari 15 malam jika keluar terus menerus.
  • Keluar setelah masa minimal suci, yakni 15 hari 15 malam dari haidl sebelumnya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa: Minimal keluarnya haidl adalah sehari semalam. Maksimal keluarnya haidl adalah 15 hari 15 malam. Pada umumnya wanita setiap bulan mengeluarkan darah 6 atau 7 hari. Paling sedikit jarak waktu yang memisah antara satu haidl dengan haidl sebelumnya adalah 15 hari 15 malam. Maka semuanya dihukumi haidl termasuk masa berhenti di antara dua darah tersebut.
Jika masa pemisah kurang dari 15 hari, maka perinciannya sebagai berikut:

  • A. Bila darah pertama dan kedua masih dalam rangkaian 15 hari terhitung dari permulaan keluarnya darah pertama maka semuanya dihukumi haidl termasuk masa berhenti di antara dua darah tersebut.
    Contoh 1: Keluar darah selama 3 hari. Berhenti selama 3 hari. Keluar lagi selama 5 hari.
    Contoh 2: Keluar darah selama 2 hari. Berhenti selama 10 hari. Keluar lagi selama 3 hari.Dari kedua contoh di atas, keseluruhan hari, termasuk waktu tidak keluar darah dihukumi haidl, sebab semuanya masih dalam masa maksimal haidl (15 hari).
  • B.Bila darah kedua sudah di luar rangkaian masa 15 hari dari permulaan haidl pertama (jumlah masa pemisah ditambah dengan darah pertama tidak kurang dari 15 hari), sementara jumlah masa pemisah ditambah darah kedua tidak lebih 15 hari, maka darah kedua dihukumi darah fasad (kotor).
    Contoh 1: Keluar darah pertama selama 3 hari. Berhenti selama 12 hari. Keluar darah kedua selama 3 hari.
    Maka 3 hari pertama dihukumi haidl,12 hari tidak keluar darah dihukumi suci, dan 3 hari akhir dihukumi darah fasad (kotor).
    Contoh 2: Keluar darah pertama selama 6 hari. Berhenti selama 9 hari. Keluar darah kedua selama 2 hari.
    Maka 6 hari pertama dihukumi haidl, berhenti 9 hari dihukumi suci dan 2 hari dihukumi darah kotor.
  • C.Bila masa suci pemisah ditambah darah kedua melebihi 15 hari, maka sebagian darah kedua dihukumi darah fasad (untuk menyempurnakan masa minimal suci pemisah). dan sisanya dihukumi haidl yang kedua, bila memenuhi ketentuan haidl.
    Contoh: Keluar darah pertama 5 hari. Berhenti selama 10 hari. Keluar darah kedua 10 hari.
    Maka 5 hari awal dihukumi haidl, 10 hari ditambah 5 hari (sebagai darah kotor) dihukumi masa suci, dan 5 hari akhir dihukumi haidl yang kedua.Ketentuan hukum ini apabila masa keluar darah kedua, setelah dikurangi untuk menyempurnakan masa minimal suci, sisanya tidak lebih dari maksimal haidl (15 hari). Dan jika melebihi masa 15 hari, maka perempuan tersebut dihukumi mustahadloh yang hukumnya disesuaikan dengan pembagian mustahadloh yang akan datang.
    Contoh: Keluar darah pertama 10 hari. Berhenti selama 10 hari. Keluar darah kedua selama 25 hari.Maka, 10 yang pertama dihukumi haidl 10 hari saat tidak keluar darah ditambah 5 hari saat keluar darah yang kedua (sebagai penyempurna 15 hari minimal suci yang memisahkan antara dua haidl), dihukumi masa suci. Sedangkan satu hari setelah itu dihukumi haidl yang kedua, dan sisanya dihukumi darah istihadloh.Hal ini jika ia adalah seorang wanita yang pertama kali mengeluarkan haidl dan darah yang dikeluarkan tidak bisa dibedakan antara yang kuat dan yang lemah (mustahadloh mubtadiah ghoiru mumayyizah). Dan jika ia sudah pernah mengalami haidl (mu’tadah ghoiru mumayyizah), maka haidl dan sucinya disesuaikan kebiasaannya. Semisal kebiasaannya 5 hari, maka 10 hari awal dihukumi haidl, 10 hari masa tidak keluar darah ditambah 5 hari saat keluar darah yang kedua dihukumi masa suci. Sedangkan 5 hari setelah itu dihukumi haidl yang kedua, mengikuti kebiasaannya. Dan sisanya dihukumi darah istihadloh.

BAB II : NIFAS

A. Pengertian Nifas
Nifas menurut bahasa adalah melahirkan, sedangkan menurut istilah syara’ adalah darah yang keluar melalui kelamin wanita setelah melahirkan atau belum melebihi 15 hari setelahnya, bila darah tidak langsung keluar.
Adapun darah yang keluar saat melahirkan (jawa : nglarani manak) atau bersamaan dengan bayi, tidak disebut darah nifas. dan hukumnya sebagai berikut:

  • a.Bila bersambung dengan haidl sebelumnya, maka disebut darah haidl.

Contoh: wanita hamil mengeluarkan darah 3 hari, kemudian melahirkan dan darah terus keluar sampai 20 hari setelah melahirkan. Maka, darah yang keluar selama 3 hari dan saat melahirkan serta darah yang keluar bersamaan dengan bayi disebut darah haidl. Sedangkan darah yang keluar setelah melahirkan selama 20 hari disebut darah nifas.
( وَالنِّفَاسُ ) لُغَةً الْوِلَادَةُ وَشَرْعًا هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ عَقِبَ الْوِلَادَةِ أَيْ بَعْدَ فَرَاغِ الرَّحِمِ مِنْ الْحَمْلِ وَسُمِّيَ نِفَاسًا لِأَنَّهُ يَخْرُجُ عَقِبَ نَفْسٍ فَخَرَجَ بِمَا ذَكَرَ دَمُ الطَّلْقِ وَالْخَارِجُ مَعَ الْوَلَدِ فَلَيْسَا بِحَيْضٍ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ آثَارِ الْوِلَادَةِ وَلَا نِفَاسَ لِتَقَدُّمِهِ عَلَى خُرُوجِ الْوَلَدِ بَلْ ذَلِكَ دَمُ فَسَادٍ نَعَمْ الْمُتَّصِلُ مِنْ ذَلِكَ بِحَيْضِهَا الْمُتَقَدِّمِ حَيْضٌ
(Bujairimi Khotib)

  • b.Bila bersambung dengan darah sebelumnya namun tidak mencapai aqollul haidl (24 jam) atau tidak bersambung dengan darah sebelumnya maka disebut darah istihadloh.

ContoH 1 : Wanita hamil mengeluarkan darah selama 20 jam, setelah itu melahirkan dan darah terus keluar selama 20 hari. Maka, darah yang keluar selama 20 jam dan darah yang keluar saat melahirkan serta yang bersamaan dengan bayi disebut darah istihadloh. Kemudian darah yang keluar selama 20 hari disebut darah nifas.

Contoh 2 : Wanita hamil mengeluarkan darah selama 5 hari, kemudian darah berhenti selama 1 hari, kemudian melahirkan dan darah keluar selama 20 hari. Maka, darah yang keluar 5 hari pertama disebut darah haidl, dan darah yang keluar saat melahirkan dan yang keluar bersamaan dengan bayi disebut darah istihadloh. Untuk darah yang keluar setelah melahirkan selama 20 hari disebut darah nifas. Sedangkan 1 hari masa tidak keluar darah dihukumi suci yang memisahkan antara haidl dengan nifas.

Darah yang keluar setelah melahirkan dengan selang waktu 15 hari atau lebih, disebut darah haidl bila memenuhi syarat haidl.
Contoh 3 :wanita melahirkan tanggal 1, kemudian tidak keluar darah sampai tanggal 17, lalu keluar darah selama 3 hari. Maka, darah yang keluar selama 3 hari dihukumi darah haidl dan waktu antara lahirnya bayi dan keluarnya darah (16 hari) dihukumi suci.

B. Ketentuan Darah Nifas.
Minimal masa nifas adalah sebentar walaupun sekejap. Masa maksimalnya 60 hari 60 malam, dan pada umumnya 40 hari 40 malam.
Maksimal masa nifas dihitung mulai dari keluarnya seluruh anggota tubuh bayi dari rahim. Sedangkan yang dihukumi nifas mulai dari keluarnya darah, dengan syarat darah keluar tidak mencapai 15 hari dari kelahiran. Sehingga jika seorang ibu melahirkan pada tanggal 1, kemudian tanggal 5 baru mengeluarkan darah, maka, masa maksimal nifas dihitung mulai dari tanggal 1, dan dihukumi nifas mulai tanggal 5, waktu antara lahirnya bayi dan keluarnya darah dihukumi suci.

Apabila seorang wanita setelah melahirkan mengeluarkan darah secara terputus putus, maka hukumnya sebagai berikut:

  • Jika semua darah yang keluar tidak lebih dari 60 hari 60 malam dari lahirnya bayi dan Putusnya tidak lebih dari 15 hari 15 malam, maka semuanya dihukumi darah nifas (menurut pendepet yg kuat/Qoul As-Sahbi) dan masa tidak keluar darah dihukumi suci menurut ulama yg lain ( Qoul Talfiq) ket Bujairimi Khotib bab Talfiq.Contoh: seorang ibu setelah melahirkan anak, langsung mengeluarkan darah selama 5 hari. Kemudian berhenti (tidak keluar darah) selama 10 hari, keluar lagi selama 10 hari, berhenti lagi selama 13 hari, keluar lagi selama 8 hari. Maka, semuanya dihukumi nifas, dan di saat darah berhenti dia diwajibkan melaksanakan sholat sebagaimana orang yang suci.
  • Jika darah yang keluar tidak lebih dari 60 hari 60 malam dari lahirnya bayi dan putusnya darah hingga 15 hari 15 malam atau lebih. Maka, darah sebelum masa putus dihukumi nifas dan darah setelah masa putus dihukumi haidl bila memenuhi syarat syaratnya haidl. Bila tidak memenuhinya maka dihukumi istihadloh. Sedangkan masa Putusnya darah dihukumi suci yang memisah antara nifas dan haidl.Contoh; seorang ibu setelah melahirkan mengeluarkan darah selama 10 hari. Kemudian berhenti 16 hari, keluar lagi 5 hari. Maka, darah 10 hari disebut nifas, 5 hari haidl dan masa berhentinya darah selama 16 hari disebut masa suci yang memisah antara nifas dan haidl.
  • Jika darah yang pertama masih dalam masa 60 hari dari lahirnya bayi dan darah kedua di luar masa 60 hari dari lahirnya bayi, maka darah yang pertama disebut nifas dan darah kedua disebut haidl, bila memenuhi ketentuannya. Sedangkan masa putusnya darah dihukumi suci yang memisah antara nifas dan haidl.Contoh; Seorang ibu setelah melahirkan, langsung mengeluarkan darah selama 59 hari. Kemudian putus selama 2 hari, keluar lagi selama 5 hari, maka 59 hari dihukumi nifas dan 5 hari dihukumi haidl. Sedangkan masa terputusnya darah selama 2 hari dihukumi suci yang memisah antara nifas dan haidl.

BAB III : ISTIHADHOH

A.Definisi istihadloh
Yaitu darah yang keluar dari vagina di luar masa-masa haid dan nifas.

B. Sifat dan warna darah
Sebelum membahas istihadloh yang perlu diperhatikan adalah mengetahui kuat dan lemahnya darah. Kuat dan lemahnya darah dipengaruhi oleh warna dan sifat darah sebagai mana berikut:

Warna Darah
1.Hitam
2.Merah
3.Merah kekuning-kuningan
4.Kuning
5.Keruh

Sifat darah
a. Kental
b. Cair
c. Berbau busuk/anyir.
d. Tidak berbau

Untuk menetapkan Hukumnya haid,kita harus tahu sifat-sifatnya darah serta dapat membedakan antara darah kuat dan darah lemah.darah yang dikeluarkan oleh wanita istikhadoh terkadang terbagi dalam 2 tingkatan:
1.Darah kuat (misal:Hitam-kental-berbau)
2.darah lemah ( misal:kuning-cair-tidak bau)

Namun adakalanya terbagi dalam 3 tingkatan
1.Darah kuat (misal:Hitam-kental-berbau)
2.Darah lemah ( misal:kuning-cair-tidak bau)
3.Darah lebih lemah (missal; keruh-cair-tidak bau)

Darah kuat adalah darah yang sifat kuatnya lebih banyak dibanding darah lainya (lemah)
Warna hitam lebih kuat dibanding warna merah,merah semu kuning,kuning dst.begitu juga darah merah lebih kuat dibanding darah warna kuning dst.semua diurutkan sesuai urutan yg tertulis diatas.

Darah hitam,kental dan berbau lebih kuat jika dibanding dengn darah
-Merah-kental-berbau
-Merah semu kuning-kental-berbau
-Hitam -kental-tidak bau
-Hitam -cair -berbau dst
Sebab darah hitam-kental-berbau memiliki 3 sifat yang mendorong kearah kuat sedang darah yang lainya hanya memiliki 2 sifat yang mendorong kearah kuat.

Namun jika warna dan sifat yang mendorong kearah kuat jumlahnya sama maka yang dihukumi darah kuat adalah darah yang keluar lebih dahulu.
Contoh:
Keluar darah Hitam,Kental,tidak bau…..7 hari
Keluar darah merah ,kental,berbau…..10 hari
Maka yang dianggp darah kuat adalh yg 7 hari ( keluar lebih dulu)

Peringatan…..!!!ISTILAH DARAH KUAT DAN DARAH LEMAH hanya berlaku pada wanita yang mengalami Istikhadoh.sedang wanita yang mengeluarkan darah TIDAK LEBIH dari 15 hari ( bg haid) dan tidak lebih dari 60 hari ( bagi Nifas) tidak ada istilah hokum darah kuat/lemah tapi SEMUA DARAH DIHUKUMI HAID/NIFAS.

C. Pembagian Mustahadloh
Wanita yang mengalami istihadloh terbagi menjadi 7 macam yaitu:

  • 1. Mubtadi’ah mumayyizah.Yaitu, wanita yang baru pertama kali mengalami haidl dan darah yang keluar melebihi maksimal haidl (15 hari 15 malam) serta darah dapat dibedakan antara yang kuat dan yang lemah. Bagi mustahadloh ini ketentuan hukumnya sebagai berikut;
    Darah kuat dihukumi haidl.
    Darah lemah dihukumi istihadloh.Wanita semacam ini disebut mumayyizah jika memenuhi empat syarat;
    a.Darah kuat tidak kurang dari 1 hari 1 malam (24 jam).
    b.Darah kuat tidak melebihi 15 hari 15 malam.
    c.Darah lemah tidak kurang dari 15 hari 15 malam (jk darah lemah terletak diantara darah kuat)
    d.tidak selang seling antara darah kuat dan darah lemah.bila salah satu dari empat syarat di atas tidak terpenuhi maka dia termasuk kategori mubtadi’ah ghoiru mumayyizah yang akan dijelaskan nanti.Contoh 1; Seorang wanita yang belum pernah haidl mengeluarkan darah sebagai berikut:
    -Darah kuat 5 hari.
    -Darah lemah 25 hari.
    Maka 5 hari dihukumi darah haidl dan 25 hari dihukumi istihadloh.Contoh 2: Seorang wanita yang belum pernah haidl mengeluarkan darah sebagai berikut:
    -Darah kuat 3 hari
    -Darah lemah 16 hari
    -Darah kuat 7 hari.
    Maka darah kuat pertama (3 hari) dan darah kuat kedua (7 hari) dihukumi haidl dan 16 hari darah lemah dihukumi istihadloh.Bagi mubtadi’ah mumayyizah dalam melaksanakan mandi pada bulan pertama dia harus menanti setelah 15 hari dan mengqodlo’ sholat yang ditinggalkan pada waktu mengeluarkan darah lemah. Sedangkan pada bulan ke 2 dan selanjutnya jika darah masih keluar, maka wajib mandi di saat ia telah melihat perpindahan sifat dari darah kuat ke darah lemah dan wajib melakukan sholat dan lain-lain.
  • 2. Mubtadi’ah Ghoiru MumayyizahYaitu wanita yang baru pertama kali mengalami haid dan darah yang keluar melebihi batas maksimal haidl serta dalam satu warna atau lebih namun tidak memenuhi 4 syarat yang terdapat dalam mubtadi’ah mumayyizah. Ketentuan hukumnya adalah sehari semalam awal dihukumi haidl dan selebihnya dihukumi istihadloh untuk tiap bulannya.
    Hal ini kalau ia ingat betul kapan mulai mengeluarkan darah. Apabila tidak ingat maka tergolong mustahadloh mutahayyiroh.
    Untuk bulan pertama mandinya harus menanti 15 hari dan mengqodlo’ sholat selama 14 hari. Untuk bulan kedua setelah sehari semalam langsung mandi dan mengerjakan sholat.Contoh; mengeluarkan darah selama 1 bulan. Semua sifatnya sama, maka yang dihukumi haidl hanya 1 hari 1 malam yang pertama. Dan selebihnya dihukumi istihadloh.
  • 3. Mu’tadah MumayyizahYaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta darah yang keluar dapat dibedakan antara yang kuat dan lemah dan memenuhi syarat-syarat, mubtadi’ah mumayyizah.Hukum wanita jenis ini ialah persis sebagaimana mubtadiah mumayyizah. Yaitu darah kuat dihukumi haidl dan darah lemah dihukumi istihadloh, begitu pula masalah kewajiban mandinya.Contoh; Wanita yang adat haidnya 7 hari
    mengeluarkan darah selama 27 hari, dengan perincian
    Darah kuat 12 hari
    Darah lemah 15 hari
    Maka dia mengalami haidl selama 12 hari dan 15 hari istihadloh. (TIDAK DISAMAKAN ADAT)Namun jika antara darah kuat dan adat, terpisah oleh masa 15 hari (aqollu at-thuhri), maka darah lemah yang jumlahnya sama dengan kebiasaan haidlnya, serta darah kuat yang keluar setelahnya dihukumi istihadloh.Contoh; wanita yang kebiasaan haidlnya 3 hari,
    mengeluarkan darah selama 21 hari, dengan perincian;
    Darah lemah 19 hari
    Darah kuat 2 hari
    Maka haidlnya adalah 3 hari pertama, sesuai adatnya, dan 2 hari terakhir. Karena 2 hari itu, keluar setelah darah lemah melewati masa aqollu at-thuhri (15 hari). Sedangkan darah 16 hari di tengah-tengah dihukumi istihadloh.
  • 4. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li ’Adaatiha Qodron Wa Waqtan
    Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam) dalam satu warna atau lebih satu warna, akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mubtadi’ah mumayyizah. Dan ia ingat kebiasaan lama dan mulai haidl yang pernah ia alami.Sedangkan ketentuan haidl dan sucinya disesuaikan dengan adatnya.adat yang dijadikan pedoman/ acuan, adalah haid yang terakhir kecuali jika adat haidnya berubah-ubah yang membentuk aturan. ( atau mencapai satu putaran misal adat haidnya 7-9,7-9)Contoh; Bulan pertama haidl selama 5 hari mulai awal bulan dan suci selama 25 hari. Kemudian mulai bulan kedua mengalami istihadloh beberapa bulan. Darah kuat dan lemah tidak bisa dibedakan (dalam satu warna) atau lebih dari satu warna akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mumayyizah, maka 5 hari pertama dihukumi haidl (mengikuti adatnya), 25 hari dihukumi istihadloh. Begitu pula untuk bulan berikutnya.
  • 5. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Nasi’ah Li Adatiha Qodron Wa WaktanYaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta antara darah lemah dan kuat tidak bisa dibedakan (satu warna) atau bisa dibedakan (lebih dari satu warna) akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mumayyizah dan dia lupa kebiasaan dan lama haidl yang pernah dialami.Mustahadloh ini juga dikenal dengan mutahayyiroh/muhayyaroh muhayiroh. Maksudnya ia dalam keadaan kebingungan. Sebab hari-hari yang ia lalui mungkin haidl dan mungkin suci. Sehingga dihukumi seperti orang haidl dalam masalah-masalah sebagai berikut;
    1.Haram istimta’ (Jawa ; ngalap suko/bercumbu) dengan suaminya pada anggota di antara pusar dan lutut.
    2.Membaca al-Qur’an di luar sholat. (kecuali untuk belajar)
    3.Menyentuh al-Qur’an. (kecuali untuk belajar yang harus dengn menyentuh)
    4.Membawa al-Qur’an. (kecuali untuk belajar yang harus dengn membawa)
    5.Diam di dalam masjid selain untuk ibadah yang tidak bisa dikerjakan di luar masjid.
    6.Lewat masjid jika khawatir darahnya mengenai masjid.Dan dihukumi sebagaimana orang suci dalam masalah:
    a.Sholat fardlu atau sunah.
    b.Thowaf fardlu atau sunah.
    c.Puasa fardlu atau sunah.
    d.I’tikaf.
    e.Talaq
    f.Mandi.Bila sama sekali tidak ingat waktu berhentinya haidl yang pernah ia alami, maka di wajib mandi setiap akan melakukan ibadah fardlu yang menyaratkan harus suci setelah masuknya waktu. Dan jika hanya ingat berhentinya saja maka dia wajib mandi ketika itu saja dan untuk selanjutnya cukup wudlu.
  • 6. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li Adatiha Qodron La WaktanYaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Darah yang keluar tidak bisa dipilah antara darah kuat dan darah lemah, atau bisa dipilah (lebih satu warna) akan tetapi darah tersebut tidak memenuhi 3 syarat yang ada pada mubtadi’ah mumayyizah, dan ia hanya ingat kebiasaan lama masa haidl akan tetapi ia lupa akan mulainya.Hukum penentuan darah wanita seperti ini adalah:
    -Hari yang ia yakini biasa haidl dihukumi haidl.
    -Yang ia yakini biasa suci, dihukumi istihadloh.
    -Dan hari-hari yang dimungkinkan suci dan mungkin haidl, ia harus berhati-hati seperti mustahadloh mutahayyiroh.Contoh: Seorang wanita mengalami istihadloh (keluar darah lebih 15 hari). Sebelum mengalaminya, ia ingat masa haidl selama 5 hari, dalam 10 hari pertama (awal bulan) namun ia lupa kapan tanggal mulai haidlnya, yang ia ingat hanyalah pada tanggal satu ia suci. Maka, tanggal 1 dihukumi yakin suci. Tanggal 2 sampai 5, mungkin haidl mungkin suci. Tanggal 6 yakin haidl tanggal 7 sampai 10 mungkin haidl mungkin suci dan mungkin mulai putus haidlnya. Tanggal 11 sampai akhir bulan, yakin suci. Sedangkan hukumnya waktu yang yakin haidl, ia dihukumi layaknya orang haidl (haram sholat, membaca al-Qur’an dan lain-lain).Waktu yang yakin suci dihukumi seperti layaknya orang suci (wajib sholat dan halal bersetubuh dan lain-lain).
    Sedangkan waktu yang mungkin haidl dan suci dihukumi sebagaimana mutahayyiroh (wajib berhati-hati seperti keterangan yang lalu). Kecuali masalah mandi, ia hanya wajib mandi pada waktu yang mungkin mulai putusnya haidl (hari ke 7 sampai ke 10).
  • 7. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li Adatiha Waktan La Qodron.Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta antara darah lemah dan kuat tidak bisa dibedakan (satu warna) atau bisa dibedakan (lebih satu warna) akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mumayyizah. Dan ia hanya ingat kebiasaan waktu mulainya haidl saja serta lupa waktu kebiasaan lamanya haidl sebelum istihadloh.Contoh; Seorang wanita mengalami istihadloh (keluar darah lebih dari 15 hari). Sebelum mengalaminya, ia ingat tanggal 1 mulai haidl, akan tetapi tidak ingat sampai kapan haidl tersebut akan berhenti.
    Maka, tanggal 1 yakin haidl. Tanggal 2 sampai 15 mungkin haidl mungkin suci juga mungkin mulai putusnya haidl. Tanggal 16 sampai akhir bulan yakin suci.Sedangkan hukumnya, masa yang yakin haidl dihukumi seperti layaknya orang yang haidl. Masa yang yakin suci, dihukumi seperti layaknya orang yang suci. Dan masa yang mungkin haidl mungkin suci dan mungkin putusnya haidl, ia dihukumi seperti wanita mutahayyiroh, seperti keterangan yang telah lalu.

BAB IV :WILADAH

A.Pengertian Wiladah
Wiladah ialah darah yang keluar dari rahim perempuan sebelum melahirkan anak, manakala darah nifas ialah darah yang keluar dari rahim perempuan selepas melahirkan anak, wiladah ialah darah yang keluar mengiringi bayi dari kandungan ibunya.

B. Mandi Wiladah
Mandi wiladah ialah mandi kerana bersalin dan ia wajib kepada setiap wanita yang bersalin. Dan diwajibkan juga mandi hadas sekali lagi setelah kering darah nifas.

Demikianlah pemahasan lengkap tentang fiqih wanita yang mengupas mengenai darah haid,nifas,wiladah dan istihadhoh, jika ada yang kuran atau salah mohon untuk dibenarkan

Pencarian Terkait
wiladah |darah wiladah |perbedaan nifas dan wiladah |pengertian wiladah |macam macam darah haid menurut islam |wiladah adalah |nabi pertama dan terakhir |arti wiladah |nifas dan wiladah |apa itu wiladah |
Comments
  1. ahmad rizki mubarok
  2. Muhammad
  3. Shella
    • Pendidikan Islam

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...