Kisah Islami : Sahabat Yang Serakah

Masuk-islam.com – Alkisah Ada seorang pemuda yang terkenal sangat baik dan terpelajar. Nama pemuda itu adalah Amad. Ia tidak pernah pelit membagi ilmu. Itu sebabnya, dia sangat dipuji-puji oleh semua orang. Semua orangtua menginginkan anaknya bersahabat dengan Fulan.

Walaupun Fulan miskin, perilakunya sangat terpuji.Fudhail adalah salah satu pemuda yang ingin bersahabat dengan Fulan. Suatu hari, mereka bertemu setelah Fulan berbicara di atas mimbar.

“Fulan, aku sudah lama ingin berkenalan denganmu. Alhamdulillah, sekarang kita bertemu di sini. Aku sangat kagum kepadamu dan ingin belajar darimu,” kata Fudhail.”Mari kita sama-sama belajar,” jawab Fulan dengan rendah hati.
“Bolehkah aku bersahabat denganmu dan mengikutimu ke mana pun kau pergi?” tanya Fudhail.

Singkat cerita, Fulan dan Fudhail bersahabat. Fudhail selalu mengikuti ke mana pun Fulan pergi. Suatu hari, Fudhail berkunjung ke rumah Fulan. Selepas shalat Zuhur, saatnya untuk makan siang. Fulan yang tidak tahu Fudhail akan berkunjung siang itu hanya memiliki sepiring nasi dan sekerat daging. Karena dia sudah menganggap Fudhail sebagai sahabat maka dia membagi makanannya menjadi tiga. Sepertiga untuknya, sepertiga untuk Fudhail, dan sepertiga lagi disisakan untuk makan malam.

serakah

“Makanlah Fudhail. Aku akan mengambil air dulu di sumur. Aku tidak memiliki air untuk diminum,” kata Fulan seraya beranjak pergi.
Setelah mendapatkan air, Fulan memasaknya dan menyajikan air minum. Dia bertanya kepada Fudhail, “Apakah kau melihat sepertiga nasi dan daging yang tadi kubagi?” tanya Fulan ketika melihat ketiga piring telah kosong.
Fudhail menggeleng. “Entahlah. Tadi aku keluar sebentar dan ketika kembali nasi itu sudah lenyap,” jawab Fudhail.
Fulan menarik napas, ’Ya sudahlah, mudah-muda- han ada rezeki untuk nanti malam.”

Fulan lalu mengajak Fudhail menghadiri sebuah majelis taklim, di mana dia menjadi khatibnya. Seturunnya dari mimbar, dia mendapatkan banyak makanan dari penyelenggara. Fulan bersyukur karena dia mendapat rezeki untuk makan nanti malam. Tak lupa, dia berbagi dengan Fudhail. Fudhail senang sekali. Malam itu, mereka makan dengan sangat nikmat.

“Sahabatku, aku masih heran dengan nasi tadi siang. Apakah kau tidak tahu siapa yang memakannya?” tanya Fulan.
“Aku tidak tahu.” Fudhail menjawab tak peduli. Fudhail malah sibuk dengan makanan di tangan dan mulutnya.

Keesokan harinya, Fulan mengajak Fudhail pergi ke sebuah danau untuk memancing ikan. Dua buah kail sudah disiapkan Fulan.
“Kita akan memancing ikan untuk makan siang nanti.”

Kail Fudhail tidak satu pun menghasilkan ikan, sedangkan kail Fulan telah memperoleh sejumlah ikan yang besar.
Fudhail menjadi cemburu dengan keberhasilan Fulan.
“Apa rahasianya, Fulan?” tanya Fudhail.
“Sebelum memasukkan kail, aku membaca bismillah,” jawab Fulan tenang.

Fulan lalu berkata lagi, “Wahai Sahabatku, hingga sekarang, aku sungguh heran dengan nasi yang habis tidakjelas rimbanya. Apakah kau benar-benar tidak tahu siapa yang melakukannya?”
Fudhail menggeleng, “Aku benar-benar tidak tahu wahai Fulan.”

“Sahabatku, aku kasihan kepada orang itu. Dia mungkin benar-benar lapar hingga menghabiskan nasi tanpa izin pemiliknya. Sesungguhnya, hal itu hukumnya haram. Jika aku bertemu dengan orang itu, aku akan memberikan ikan-ikan ini untuknya agar apa yang dia makan halal dan mengenyangkan perutnya yang lapar.” Mendengar ucapan Fulan, muncullah sikap serakah Fudhail yang selama ini ditutupinya.

“Fulan sahabatku, maafkan aku. Sebenarnya yang menghabiskan sisa nasi itu adalah aku. Aku sangat lapar saat itu dan nasi yang kauberikan sungguh enak, namun kurang mengenyangkan karena jumlahnya sedikit. Maafkan aku telah membohongimu.”

Fulan menatap Fudhail, lalu berkata, “Kau sungguh memiliki sifat serakah dan pembohong. Ambillah semua ikan ini untukmu. Jangan lagi bersahabat denganku,” kata Fulan meninggalkan Fudhail seorang diri. Fudhail hanya bisa menatap kepergian Fulan dengan penuh penyesalan.

Dari cerita diatas dapat kita ketahui bahwa fudhail adalah sahabat yang serakah dan mudah berdusta dan itu adalah ciri-ciri orang munafik, yaitu bila ia berbicara berdusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat.”

Itulah cerita islami tentang tanda-tanda orang munafik yang dapat saya sampaikan hari ini, Wasslamualaikum Wr.Wb

Pencarian Terkait
kisah orang serakah |cerita singkat tentang orang munafik |download cerita muslim tentang orang-orang munafik |download ceramah tentang sahabat munafik |contoh kisah orang munafik singkat |contoh cerita tentang nifaq |contoh cerita nifa |cerita tentang perilaku seseorang yang munafik |cerita singkat tentang orang yang serakah |Mendidik itu memanusiakan Memanusiakan seseorang agar menjadi insan yang bijak welas asih tidak rakus dan serakah tidak munafik tidak eksploitatif tidak kikir dan pelit tidak bermental budak tidak berwatak penjilat mau berbagi dan gotong royong berani ber |

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...