Mengapa Berhubungan Badan Suami Istri Menjadi Ibadah & Berpahala

Di Publikasikan 01 Dec 2012 // Oleh pendidikan islam // Kategori Dalam Islam, Tanya Jawab //

hubungan intim berpahalaSungguh Betapa Islam sangat melindungi wanita. Bukan hanya melindungi, tapi juga memuliakannya. Bahkan dalam urusan tempat tidur sekalipun. Dalam soal berhubungan badan pun tidak semata-mata urusan penyaluran kebutuhan biologis dan mendapatkan keturunan semata. Tapi lebih dari itu, berhubungan badan dengan istri bagi seorang Muslim adalah ibadah. Dan semua ibadah, adalah pahala.

Hubungan badan antara kalian (dengan isteri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala’,” (HR. Muslim no. 1006).

Berdasarkan hadits di atas, mayoritas ulama berpendapat bahwa pahala seorang pria yang menyetubuhi istri atau budaknya bisa diraih jika didasari niat yang sholeh, yaitu untuk menjaga dirinya atau pula pasangannya agar tidak terjerumus dalam yang haram. Atau jima’ tadi diniatkan untuk menunaikan hak dari pasangannya dengan cara yang ma’ruf sebagaimana yang diperintahkan. Atau hubungan badan tadi bertujuan untuk mencari keturunan sehingga anak-anaknya kelak bisa mewariskan ilmu orang tuanya dan bisa semakin menyemarakkan Islam. Inilah niatan-niatan sholeh yang dimaksud.

Baca juga adab jimak (hubungan suami istri) dalam islam!

Lantas bagaimana jika hubungan badan tersebut hanya ingin memuaskan nafsu syahwat dengan istri atau budak, tidak diniatkan dengan niatan sholeh seperti dicontohkan di atas? Hal ini terdapat khilaf (beda pendapat) di antara para ulama. Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa keadaan seperti itu tetap mendapatkan pahala. Sebagian lainnya mengatakan tidak. Yang lebih tepat dalam hal ini adalah pendapat terakhir, yaitu tidak mendapati pahala karena tidak didasari niat yang sholeh saat berhubungan badan. Dalil penguatnya di antaranya adalah hadits berikut,

Jika seorang muslim berinfak pada keluarganya dengan maksud meraih pahala dari Allah, maka itu dinilai sedekah,” (HR. Bukhari no. 5351). Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud hadits ini adalah sedekah dan infak secara umum dengan syarat ingin mengharap wajah Allah (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/88). Para ulama yang mengatakan mesti dengan niatan sholeh berkata, “Jika pada infak yang wajib saja disyaratkan meraih pahala Allah, bagaimana lagi dengan jima’ yang asalnya mubah?” Sehingga hal ini menunjukkan bahwa jima’ yang bisa berpahala adalah jika diniatkan meraih pahala atau didasari niatan sholeh dan tidak sekadar melampiaskan syahwat belaka.

[islampos/berbagai sumber]

Mengapa Berhubungan Badan Suami Istri Menjadi Ibadah & Berpahala pendidikan islam 01 Dec 2012. Mengapa Berhubungan Badan Suami Istri Menjadi Ibadah & Berpahala

Sungguh Betapa Islam sangat melindungi wanita. Bukan hanya melindungi, tapi juga memuliakannya. Bahkan dalam urusan tempat tidur sekalipun. Dalam soal berhubungan badan pun tidak semata-mata urusan penyaluran kebutuhan biologis dan mendapatkan keturunan semata. Tapi lebih dari itu, berhubungan badan dengan istri bagi seorang Muslim adalah ibadah. Dan semua ibadah, adalah pahala. “Hubungan badan antara kalian […]

4.9 pendidikan islam

6 Komentar

  1. ach ridhok says:

    assalamualaikum.wr.wb
    saya mau bertanya gimana hukumnya menikahi seorang perempuan bukan karena allah tapi cuman kerene ingin menutup aib?
    terima kasih

    • pendidikan islam says:

      hukumnya boleh boleh saja (mubah), kecuali kalo tujuannya untuk menyakiti perempuan, itu yang diharamkan

  2. huda says:

    Assalamu’alaikum wr.wb…
    saya dan kekasih saya ingin menikah secepatnya,,agar kami tidak melakukan maksiat yang dilarang Allah… tapi karena orang tua kekasih saya ingin anaknya selesaikan kuliah… sedangkan kami ingin sekali menikah,karena sudah 2 tahun menjalni pacran.. tapi dari pihak saya gak punya wali,karena ayah saya meninggal,kalau saudara ayah jauh di mekkah, terus saya gak punya kaka laki2 dari ayah sekandung… kami ingin menikah secara diam2 bagaimana solusinya..

  3. huda says:

    assalamu’alaikum wr.wb
    saya minta pendapat nya yah.. saya sudah menjalni pacaran dengan kekasih saya sudah 2 tahun….kami ingin sekali melangsungkan pernikahan,,karena kami takut terjadi2 yang tidak di inginkan.. tapi dari pihak orang tua pacar saya sampaikan selesai kuliah terus punya kerjaan. dari pihak saya gak punya wali nikah karena ayah sudah meninggal,dan saudara ayah saya ada di mekkah sana.dan anak laki2 dari ayah kandung juga gak ada…sedangkan kami ingin sekali menikah tapi dengan cara diam2. dengan sapa kah saya boleh di wakilkan wali?saya minta tolong sarannya. terima kasih..wassalam..

Silahkan Tingalkan Komentar Anda!