Pembahasan Istinja dan Adab Buang Air (Lengkap)

A. Pengertian Istinja

Masuk-islam.comISTINJA adalah membersihkan kubul (kemaluan depan) atau dubur (kemaluan belakang) setelah buang air kecil atau air besar.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengabarkan dalam suatu riwayat yang shahih, bahwa ada seorang yang di adzab dalam kuburnya dengan sebab tidak membersihkan dirinya dari kencing yang menimpa dirinya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengabarkan pula bahwa kebanyakan siksa kubur adalah dari sebab kencing. Hal ini memberikan gambaran kepada kita, bahwa perkara yang berkaitan dengan adab istinja’ dan buang air, sangatlah penting untuk diketahui dan kemudian kita praktekkan dalam kehidupan kita.
Jadi, Hukum ISTINJA adalah wajib.

  • Alat yang dapat dipergunakan untuk Istinja adalah:

    1. Air.
    2. Batu (tiga buah batu atau satu batu yang mempunyai tiga sisi).
    3. Benda-benda yang keras, kesat dan suci, serta tidak dimulyakan, misalnya kayu, tisu, dan sebagainya.
      Benda-benda yang licin, misalnya kaca dan batu yang licin, tidak sah digunakan untuk beristinja, karena tidak dapat menghilangkan najis. Begitu pula benda-benda yang dihormati, misalnya: makanan dan minuman, tidak boleh digunakan untuk beristinja, karena termasuk perbuatan tabzir (mubazir), sedangkan tabzir dilarang agama.
  • Syarat Beristinja Dengan Batu atau Benda-Benda Selain Air

    1. Kotoran itu belum kering.
    2. Kotoran itu tidak mengenai bagian lain selain tempat keluarnya.
    3. Tidak kedatangan najis lain selain daripadanya.
      Jika salah satu dari ketiga syarat ini tak terpenuhi, maka tidak sah BERISTINJA dengan batu atau benda lainnya, jadi harus dengan air.

B. Adab Buang Air

Dalam islam, bagi orang yang akan BUANG AIR, ada tata cara yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Hendaklah BUANG AIR ditempat tertutup.
    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
    خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى
    “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.”
    Diwajibkan untuk menjaga aurat ketika istinja, jangan sampai auratnya terlihat oleh orang lain, selain istri dan budaknya.
    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu dan budakmu.” (HR. Abu Daud dari Muawiah bin Haidah).
  2. Masuklah ke WC atau kamar kecil dengan kaki kiri, dan keluar kaki kanan.
    كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ
    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”
    Dari hadits ini, Syaikh Ali Basam mengatakan, “Mendahulukan yang kanan untuk perkara yang baik, ini ditunjukkan oleh dalil syar’i, dalil logika dan didukung oleh fitrah yang baik. Sedangkan untuk perkara yang jelek, maka digunakan yang kiri. Hal inilah yang lebih pantas berdasarkan dalil syar’i dan logika.”
  3. Hendaklah BUANG AIR ditempat yang jauh dari orang banyak.
    Hal ini karena buang air di tempat umum akan mengganggu mereka, seperti yang sedang makan, dll.
    خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.
    “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.”
  4. Jangan BUANG AIR dilubang-lubang tanah.
    Hal ini dikhawatirkan menyakiti binatang yang ada didalamnya.
  5. Jangan BUANG AIR diair tergenang.
    أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.”
    Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ar Rofi’i mengatakan, “Larangan di sini berlaku untuk air tergenang yang sedikit maupun banyak karena sama-sama dapat mencemari.”
    Dari sini, berarti terlarang kencing di waduk, kolam air dan bendungan karena dapat menimbulkan pencemaran dan dapat membawa dampak bahaya bagi yang lainnya. Jika kencing saja terlarang, lebih-lebih lagi buang air besar.
    Sedangkan jika airnya adalah air yang mengalir (bukan tergenang), maka tidak mengapa. Namun bahwasannya (lebih baik) tidak melakukannya karena seperti ini juga dapat mencemari dan menyakiti yang lain.
  6. Jangan BUANG AIR dibawah pohon yang sedang berbuah.
    Hal ini karena akan mengganggu terhadap orang yang akan memanfaatkan pohon tersebut, baik dalam hal memetik buah yang dapat di manfaatkan maupun mengambil kayu atau dahannya; dan seorang muslim tidaklah boleh mengganggu sesamanya.
  7. Jangan BUANG AIR ditempat yang biasa dipakai untuk berteduh.
    « اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ ». قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِى ظِلِّهِمْ ».
    “Hati-hatilah dengan al la’anain (orang yang dilaknat oleh manusia)!” Para sahabat bertanya, “Siapa itu al la’anain (orang yang dilaknat oleh manusia), wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang buang hajat di jalan dan tempat bernaungnya (Berteduh) manusia.”
  8. Jangan berbicara. Kecuali dalam keadaan terpaksa.
    أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.
    “Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya.”
    Syaikh Ali Basam mengatakan, “Diharamkan berbicara dengan orang lain ketika buang hajat karena perbuatan semacam ini adalah suatu yang hina, menunjukkan kurangnya rasa malu dan merendahkan murua’ah (harga diri).” Kemudian beliau berdalil dengan hadits di atas.Syaikh Abu Malik mengatakan, “Sudah kita ketahui bahwa menjawab salam itu wajib. Ketika buang hajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, maka ini menunjukkan diharamkannya berbicara ketika itu, lebih-lebih lagi jika dalam pembicaraan itu mengandung dzikir pada Allah Ta’ala.
    Akan tetapi, jika seseorang berbicara karena ada suatu kebutuhan yang mesti dilakukan ketika itu, seperti menunjuki jalan pada orang (ketika ditanya saat itu, pen) atau ingin meminta air dan semacamnya, maka dibolehkan saat itu karena alasan darurat. Wallahu a’lam.”
  9. Jangan membawa atau membaca ayat al’quran, atau benda yang ada tulisan Allah.
    كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya.”
    Akan tetapi hadits ini adalah hadits munkar yang diingkari oleh banyak peneliti hadits. Namun memang cincin beliau betul bertuliskan “Muhammad Rasulullah”.
  10. Jika terpaksa BUANG AIR ditempat terbuka, maka jangan menghadap kiblat atau membelakanginya.
    Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    « إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا » . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى
    “Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala.”
    Yang dimaksud dengan “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Namun kalau kita berada di Indonesia, maka berdasarkan hadits ini kita dilarang buang hajat dengan menghadap arah barat dan timur, dan diperintahkan menghadap ke utara atau selatan.
  11. Membaca doa ketika masuk dan keluar WC.
    Berikut adalah Doa Ketika Masuk WC
    كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: ALLOHUMMA INI ‘AUDZUBIKA MINAL KHUBUSIWAL KHOBAAITS” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan).”
    Berikut Adalah Doa Keluar dari WC
    أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “GHUFROONAKA” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).”[HR. Abu Daud no. 30, At Tirmidzi no. 7, Ibnu Majah no. 300, Ad Darimi no. 680. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

C. Cara Beristinja

  1. Tidak beristinja’ dan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan.
    إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِى الإِنَاءِ ، وَإِذَا أَتَى الْخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ
    “Jika salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam bejana. Jika ia buang hajat, janganlah ia memegang kemaluan dengan tangan kanannya. Janganlah pula ia beristinja’ dengan tangan kanannya.”
  2. Beristinja’ bisa dengan menggunakan air atau menggunakan minimal tiga batu (istijmar).
    Beristinja’ dengan menggunakan air lebih utama daripada menggunakan batu sebagaimana menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarok, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan Ishaq, Alasannya, dengan air tentu saja lebih bersih.
    Dan inilah yang ditunjukkan dalam kebanyakan hadits tentang istinja` Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ini juga yang merupakan sebab Allah memuji para sahabat di masjid Quba dalam firman-Nya, “Di dalamnya ada orang-orang yang senang untuk bersuci.” (QS. At-Taubah: 108) (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah)
    Dalil lain yang menunjukkan istinja’ dengan air adalah hadits dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,
    كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ أَجِىءُ أَنَا وَغُلاَمٌ مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ . يَعْنِى يَسْتَنْجِى بِهِ
    “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk buang hajat, aku dan anak sebaya denganku datang membawa seember air, lalu beliau beristinja’ dengannya.”
    Dalil yang menunjukkan istinja’ dengan minimal tiga batu adalah hadits Jabir bin ‘Abdillah
    إِذَا اسْتَجْمَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَجْمِرْ ثَلاَثاً
    “Jika salah seorang di antara kalian ingin beristijmar (istinja’ dengan batu), maka gunakanlah tiga batu.”
  3. Memerciki kemaluan dan celana dengan air setelah kencing untuk menghilangkan was-was.
    أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ
    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”Jika tidak mendapati batu untuk istinja’, maka bisa digantikan dengan benda lainnya, asalkan memenuhi tiga syarat: benda tersebut suci, bisa menghilangkan najis, dan bukan barang berharga seperti uang atau makanan. Sehingga dari syarat-syarat ini, batu boleh digantikan dengan tisu yang khusus untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.
  4. Diwajibkan untuk menjaga tubuh dan pakaian dari najis ketika buang air.
    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melewati dua kubur yang kedua penghuninya tengah disiksa. Maka beliau bersabda, “Adapun salah satu dari keduanya, maka dia tidak berbersih ketika buang air.”Disunnahkan menggosokkan tangan kiri ke tanah atau mencucinya dengan sabun setelah melakukan istinja`.Abu Hurairah berkata, “… Lalu beliau beristinja` dengannya (air) kemudian menggosokkan tangannya ke tanah.” (HR. Abu Daud).
    Imam Ibnul Mundzir berkata, “Maka disunnahkan bagi orang yang telah beristinja` dengan air untuk mencuci tangannya dengan asynan (pembersih tangan) atau selainnya, atau menggosokkannya ke tanah, untuk membersihkannya dan menghilangkan bau najis kalau bau itu masih tersisa di tangannya. ” Lihat Al-Isyaf (1/186-187) dan As-Subul (1/291)

Referensi : berbagai sumber (www.muslim.or.id, Buku Tuntunan Sholat,http://al-atsariyyah.com)

Pencarian Terkait
doa beristinja |cara istinja dan doanya |doa istinja yang benar |tata cara istinja |cara membersihkan kemaluan setelah kencing |doa istinja buang air besar |istinja |cara beristinja |bacaan doa istinja |tata cara beristinja |
Comments
  1. ahmad yan
  2. puteri
  3. Kuko
  4. nur islamiyah
    • pendidikan islam
  5. Sarip Hidayat
  6. rahma
    • Pendidikan Islam

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...