Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.)

Di Publikasikan 21 Apr 2013 // Oleh // Kategori Munakahat (Pernikahan) //

PENDAHULUAN

cerai dalam islam/talaqMasuk-islam.com – Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai perceraian/Cerai Talak setalah pada bab yang lalu telah dibahas mengenai Pernikahan atau Perkawinan,

Cerai atau Perceraian Nikah Dalam Islam disebut dengan istilah Talak. Pada Bab ini masuk-islam.com akan mengupas tuntas mengenai permasalahan seputar cerai.
Bab-bab yang akan dibahas di sini adalah Pengertian Cerai/Talak menurut bahasa dan istilah,Dasar hukum (dalil) tentang perceraian, Hukum Cerai, Rukun Perceraian,Jenis Perceraian,Ucapan Talak,Masa Iddah, Prosedur perceraian di pengadilan agama dll.
Selengkapnya dapat anda baca dibawah ini :

A. PENGERTIAN TALAK MENURUT BAHASA DAN ISTILAH

  • Pengertian Talak Menurut bahasa adalah melapas, Kata ath-thalaq ( الطَّلاَقُ) secara makna bahasa adalah isim mashdar kata thallaqa (طَلَّقَ), dan suatu isim mashdar menyamai mashdhar dari sisi makna tetapi berbeda dari segi huruf-hurufnya. Makna kata ini diambil dari kata al-ithlaq (الِإطْلاَقُ) yang artinya melepas. Hal itu karena pernikahan adalah ikatan (akad), apabila istri ditalak, lepaslah ikatan (akad) tersebut.
  • Pengertian Talak Menurut Istilah Syariahadalah melepaskan ikatan perkawinan (Arab, اسم لحل قيد النكاح) atau putusnya hubungan perkawinan antara suami dan istri dalam waktu tertentu atau selamanya.
    • Menurut Ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mengatakan bahwa talak adalah pelepasan ikatan perkawinan secara langsung untuk masa yang akan datang dengan lafal yang khusus.
    • Menurut mazhab Syafi’i, talak adalah pelepasan akad nikah dengan lafal talak atau yang semakna dengan itu.
    • Menurut ulama Maliki, talak adalah suatu sifat hukum yang menyebabkan gugurnya kehalalan hubungan suami istri.

    Perbedaan definisi diatas menyebabkan perbedaan akibat hukum bila suami menjatuhkan talak Raj’i pada istrinya. Menurut Hanafi dan Hanbali, perceraian ini belum menghapuskan seluruh akibat talak, kecuali iddah istrinya telah habis. Mereka berpendapat bahwa bila suami jimak dengan istrinya dalam masa iddah, maka perbuatan itu dapat dikatakan sebagai pertanda rujuknya suami. Ulama Maliki mengatakan bila perbuatan itu diawali dengan niat, maka berarti rujuk. Ulama syafi’i mengatakan bahwa suami tidak boleh jimak dengan istrinya yang sedang menjalani masa iddah, dan perbuatan itu bukanlah pertanda rujuk. karena menurut mereka, rujuk harus dilakukan dengan perkataan atau pernyataan dari suami secara jelas, bukan dengan perbuatan.
    Pembagian Talak

B. DALIL DASAR HUKUM PERCERAIAN TALAK

QS Al-Baqarah 2:229
الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْزَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئاً إِلاّض أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.

QS At-Talaq 65:1-7
أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لاَ تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلاَّ أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لاَ تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا*

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا* وَاللاَّئِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِن نِّسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللاَّئِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُوْلاتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا* ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنزَلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا* أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلاَ تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِن كُنَّ أُولاَتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُم بِمَعْرُوفٍ وَإِن تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى* لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Artinya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.(ayat 1)

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(ayat 2)

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(ayat 3)

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (ayat 4)

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (ayat 5)

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.(ayat 6)

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.(ayat 7)

C. HUKUM CERAI/TALAK

Hukum talak/perceraian itu beragam: bisa wajib, sunnah, makruh, haram, mubah. Rinciannya sbb:

  1. HUKUM TALAK/CERAI ITU WAJIB APABILA:
    a) Jika suami isteri tidak dapat didamaikan lagi
    b) Dua orang wakil daripada pihak suami dan isteri gagal membuat kata sepakat untuk perdamaian rumahtangga mereka
    c) Apabila pihak pengadilan berpendapat bahawa talak adalah lebih baik
    Jika tidak diceraikan dalam keadaan demikian, maka berdosalah suami
  2. HUKUM TALAK/CERAI ITU HARAM APABILA:
    a) Menceraikan isteri ketika sedang haid atau nifas
    b) Ketika keadaan suci yang telah disetubuhi
    c) Ketika suami sedang sakit yang bertujuan menghalang isterinya daripada menuntut harta pusakanya
    d) Menceraikan isterinya dengan talak tiga sekaligus atau talak satu tetapi disebut berulang kali sehingga cukup tiga kali atau lebih
  3. HUKUM TALAK/CERAI ITU SUNNAH APABILA:
    a) Suami tidak mampu menanggung nafkah isterinya
    b) Isterinya tidak menjaga martabat dirinya
  4. TALAK/CERAI HUKUMNYA MAKRUH APABILA:
    Suami menjatuhkan talak kepada isterinya yang baik, berakhlak mulia dan mempunyai pengetahuan agama
  5. TALAK/CERAI HUKUMNYA MUBAH APABILA
    Suami lemah keinginan nafsunya atau isterinya belum datang haid atau telah putus haidnya

D. RUKUN PERCERAIAN/ TALAK

Ada 2 faktor dalam perceraian yaitu suami dan istri. Masing-masing ada syarat sahnya perceraian.

  1. Rukun Talak bagi Suami
    • Berakal sehat
    • Baligh
    • Dengan kemauan sendiri
  2. Rukun Talak bagi Isteri
    • Akad nikah sah
    • Belum diceraikan dengan talak tiga oleh suaminya
  3. Lafadz/teks talak:
    • Ucapan yang jelas menyatakan penceraiannya
    • Dengan sengaja dan bukan paksaaan

E. JENIS PERCERAIAN/MACAM-MACAM TALAK

  1. TALAK MENURUT LAFALNYA

    • Talak dengan lafal shorih (jelas)yaitu ucapan talak yang tidak harus disertai niatContoh: suami berkata kepada isterinya; “kamu saya talak” perkataan seperti ini adalah jelas. Maka tidak diperlukan niat. Ucapan suami yang seperti ini baik bergurau, niat ataupun tidak ada niat tetap dapat menjatuhkan talak.
    • Talak dengan lafal kinayah (sindiran)yaitu ucapan talak yang bisa jatuh jika disertai niat.Contoh; suami berkata: “pulanglah engkau kerumah orang tuamu.” Jika suami berkata dengan sindiran, dan disertai niat, maka jatuhlah talaknya, tetapi jika tidak disertai niat maka tidak jatuh talak.
  2. TALAK MENURUT WAKTUNYA

    • Talak sunni yaitu talak yang dijatuhkan pada saat isteri dalam keadaan suci (setelah selesai haid) dan belum di kumpuli (disetubuhi)
    • Talak bid’i yaitu talak yang dijatuhkan pada saat isteri sedang dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci tetapi sudah dicampuri (disetubuhi) talak seperti ini hukumnya haram.
  3. TALAK MENURUT JENISNYA

    • Talak mati yaitu talak yang disebakan karena suami meninggal dunia
    • Talak hidup yaitu yang dikarenakan oleh suatu sebab
    • Talak roj’i yaitu talak yang masih diperbolehkan rujuk kembali
    • Talak ba’in yaitu talak yang tidak diperbolehkan untuk rujuk kembali, jika menginginkan untuk dikawini harus dengan jalan akad nikah baru.
      • Talak ba’in sughra (kecil)yaitu talak ba’in yang jika ingin dikawini lagi, harus dengan jalan akad nikah yang baru tanpa ada syarat yang beratContoh: talak satu atau dua yang sudah habis masa iddahnya
      • Talak ba’in kubra (besar)yaitu talak ba’in yang jika ingin kawin lagi, harus dengan jalan akad nikah baru, dan dengan syarat yang berat.Sudah jatuh talak ketiga, jika ingin kawin lagi tidak diperbolehkan, kecuali bekas isteri sudah dinikahi oleh orang lain, sudah ditalak dan telah habis masa iddahnya dan sudah pernah berhubungan layaknya suami isteri.
  4. TALAK MENURUT PELAKU PERCERAIAN

    • Talak yang dijatuhkan suami kepada istri
    • Talak yang dijatuhkan Istri Kepada Suami / GUGAT CERAI
      Yaitu perceraian yang dilakukan oleh istri kepada suami. Cerai model ini dilakukan dengan cara mengajukan permintaan perceraian kepada Pengadilan Agama. Dan perceraian tidak dapat terjadi sebelum Pengadilan Agama memutuskan secara resmi.Ada dua istilah yang dipergunakan pada kasus gugat cerai oleh istri, yaitu fasakh dan khulu’:

      1. Fasakh
        Fasakh adalahpengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dalam kondisi di mana:

        • Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
          Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);
        • Suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suamii istri); atau
        • adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.Jika gugatan tersebut dikabulkan oleh Hakim berdasarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan (tafriq) hubungan perkawinan antara keduanya.
      2. Khulu’
        Khulu’ adalah kesepakatan penceraian antara suami istri atas permintaan istri dengan imbalan sejumlah uang (harta) yang diserahkan kepada suami. Khulu’ disebut dalam QS Al-Baqarah 2:229

      Efek Hukum dari gugat cerai oleh istri baik Fasakh maupun Khulu’ adalah talak ba’in shughra (talak ba’in kecil).
      TALAK BA’IN SHUGHRA adalah hilangnya hak rujuk pada suami selama masa ‘iddah. Artinya, apabila lelaki tersebut ingin kembali kepada mantan istrinya maka ia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut. Sementara itu, istri wajib menunggu sampai masa ‘iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain.

 

F. BEDA TALAK RAJ’I, TALAK BA’IN SUGHRA, TALAK 3 (BA’IN KUBRO)

Dari seluruh uraian seputar talak/perceraian di atas dapat disimpulkan bahwa talak ada 3 macam yaitu talak raj’i, talak ba’in sughra (kecil) dan talak ba’in kubra atau talak 3. Perbedaan ketiganya adalah sbb:

  1. Talak Raj’i (Rujuk)
    Adalah cerai talak oleh suami dengan level talak 1 (satu) dan talak 2 (dua). Dengan status talak raj’i, maka suami boleh rujuk atau kembali pada istri yang dicerainya selama masa iddah tanpa harus akad nikah baru. Namun apabila keinginan rujuk tersebut setelah masa iddah habis, maka harus diadakan akad nikah baru.
  2. Talak Ba’in Sughra (Kecil)
    adalah perceraian yang disebabkan oleh gugat cerai oleh istri baik dengan cara fasakh atau khuluk. Dalam kondisi ini, maka (a) suami tidak boleh rujuk pada istri selama masa iddah; dan (b) suami boleh kembali ke istri setelah masa iddah habis dengan akad nikah yang baru.
  3. Talak 3 (Tiga) atau Talak Ba’in Kubro
    adalah perceraian di mana suami sama sekali tidak boleh rujuk atau kembali pada istrinya walaupun masa iddah sudah habis kecuali setelah istri menikah dengan laki-laki lain dan beberapa saat (bulan/tahun) kemudian pria kedua tersebut menceraikannya.

G. IDDAH (MASA TUNGGU)

Iddah adalah masa tunggu bagi istri yang dicerai talak oleh suami atau karena gugat cerai oleh istri.

Dalam masa iddah, seorang perempuan yang dicerai tidak boleh menikah dengan dengan siapapun sampai masa iddahnya habis atau selesai. Bagi istri yang ditalak raj’i (talak satu atau talak dua) maka suami boleh kembali ke istri (rujuk) selama masa iddah tanpa harus ada akad nikah baru.

Sedangkan apabila suami ingin rujuk setelah masa iddah habis, maka harus ada akad nikah yang baru.

Rincian masa iddah sbb:

  • Perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari, baik sang isteri sudah dicampuri (hubungan intim) atau belum (QS Al-Baqarah 2:234).
  • Istri yang dicerai saat sedang hamil, maka masa iddahnya sampai melahirkan (QS At-Talaq 65:4).
  • Istri yang ditalak tidak dalam keadaan hamil dan masih haid secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haid yang sempurna(QS Al-Baqarah 2:228).
  • Jika wanita yang dijatuhi talak itu masih kecil, belum mengeluarkan darah haid atau sudah lanjut usia yang sudah manopause (berhenti masa haid), maka iddahnya adalah tiga bulan (At-Thalaq 65:4).
  • Wanita yang pernikahannya fasakh/dibatalkan dengan cara khulu’ atau selainnya, maka cukup baginya menahan diri selama satu kali haid.
  • Wanita yang dicerai-talak sebelum ada hubungan intim, maka tidak ada masa iddah.

 

H. PROSEDUR PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA

Ada beberapa tahapan dalam melakukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama baik menyangkut cerai talak oleh suami atau cerai gugat oleh istri sbb:

    1. PROSES CERAI TALAK OLEH SUAMI DI PENGADILAN AGAMA
      Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau Kuasanya:

      • Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal 66 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah tentang tata cara membuat surat permohonan (Pasal 119 HIR, 143 R.Bg jo. Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika Termohon telah menjawab surat permohonan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Termohon.
      • Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah :
        • Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989);
        • Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Pemohon, maka permohonan harus diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989);
        • Bila Termohon berkediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (3) UU No. 7 Tahun 1989);
        • Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 66 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989).
      • Permohonan tersebut memuat :
        • Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon;
        • Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
        • Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
      • Permohonan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak atau sesudah ikrar talak diucapkan (Pasal 66 ayat (5) UU No. 7 Tahun 1989).
      • Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR, 145 ayat (4) R.Bg. Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 R.Bg).
      • Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 121, 124, dan 125 HIR, 145 R.Bg).

      Proses Penyelesaian Perkara

      1. Pemohon mendaftarkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah.
      2. Pemohon dan Termohon dipanggil oleh Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah untuk menghadiri persidangan.
      3. Tahapan persidangan :
        • Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
        • Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR, 158 R.Bg).
          Putusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah atas permohonan cerai talak sebagai berikut :
        • Permohonan dikabulkan. Apabila Termohon tidak puas dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syarhah tersebut;
        • Permohonan ditolak. Pemohon dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah tersebut;
        • Permohonan tidak diterima. Pemohon dapat mengajukan permohonan baru.
      4. Apabila permohonan dikabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka :
        • Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah menentukan hari sidang penyaksian ikrar talak;
        • Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah memanggil Pemohon dan Termohon untuk melaksanakan ikrar talak;
        • Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang penyaksian ikrar talak, suami atau kuasanya tidak melaksanakan ikrar talak didepan sidang, maka gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut dan perceraian tidak dapat diajukan lagi berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat (6) UU No. 7 Tahun 1989).
      5. Setelah ikrar talak diucapkan panitera berkewajiban memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989);
    2. PROSES GUGAT CERAI OLEH ISTRI DI PENGADILAN AGAMA
      Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya :

      1. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah tentang tata cara membuat surat gugatan (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo. Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Tergugat.
      2. Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah;
        • Bila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Tergugat, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989 jo Pasal 32 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974);
        • Bila Penggugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama/mahkamah syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (2) UU No.7 Tahun 1989);
        • Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’aah yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No.7 Tahun 1989).
      3. Permohonan tersebut memuat :
        • Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon;
        • Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
        • Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
      4. Gugatan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 86 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989).
      5. Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR, 145 ayat (4) R.Bg. Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 R.Bg).
      6. Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 121, 124, dan 125 HIR, 145 R.Bg).

      Proses Penyelesaian Perkara

      1. Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah
      2. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama/mahkamah syar’iah untuk menghadiri persidangan
      3. Tahapan persidangan :
        • Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
        • Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR, 158 R.Bg);
          Putusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah atas permohonan cerai gugat sebagai berikut :

          • Gugatan dikabulkan. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah tersebut;
          • Gugatan ditolak. Penggugat dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah tersebut;
          • Gugatan tidak diterima. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru.
        • Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap maka panitera Pengadilan agama/mahkamah syar’iah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak.

I. Hal-Hal Yang Terjadi Akibat Perceraian (Talak)

Hadhanah yaitu mengasuh atau mendidik anak yang belum mengerti tentang sesuatu yang baik untuknya, atau yang membahayakan dirinya.
Dalam uraian kewajiban suami isteri adalah mendidik dan memelihara anaknya, permasalahan yang timbul disini kalau terjadi perceraian antara suami isteri, siapakah yang lebih berhak untuk mengasuh anaknya.
Sabda Rasulullah saw yang artinya :“diceraikan dari Umar bin Suaib dari ayah dan kakeknya, sesungguhnya suatu hari ada seorang perempuan datang menemui Rasulullah: Ya Rasulullah anak inio saya kandung, saya susui, saya besarkan, sedangkan ayahnya menceraikan saya dan akan mengambil anak ini dari saya, Rasulullah menjawab : engkau lebih berhak mengasuh anak ini sebelum kamu menikah.” (HR. Abu Dawud)

Dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Orang yang paling berhak mengasuh anak adalah ibunya, selama anak tersebut masih kecil dan belum cakap, mengenai pemeliharaan ditanggung ayahnya.
2. Apabila ibu telah menikah hak mengasuh ada pada ayahnya.
3. Apabila anak telah dewasa dan mengerti apa yang baik untuk dirinya, maka ia diberi kebebasan untuk memilih antara ibu dan ayahnya.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW berkata, seorang anak diberi kebebasan memilih antara ayah dan ibunya.” (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi).

Syarat bagi orang yang memiliki hak asuh :
1. Berakal sehat
2. Merdeka
3. Beragama Islam
4. Dapat memelihara kehormatan anak yang diasuh
5. Dapat dipercaya
6. Berdomisili (tinggal) di wilayah anak tersebut diasuh
7. Tidak memiliki suami

Demikianlah pembahasan Talak /Cerai yang selengkap-lengkapnya dapat kami sampaikan, mohon maaf jika ada yang kuran ataupu kesalahan!

Referensi/Rujukan :
- Kitab Al-Umm oleh Imam Syafi’i
- Kitab Al-Majmuk Syarah Muhadzab oleh Imam Nawawi
- Kitab Fathul Wahhab oleh Abu Zakariya Al Anshari.
- Kitab Fathul Qorib oleh Al-Ghazi

saktirangkuti.blogspot.com/2013/01/pengertian-talak-atau-perceraian-dalam.html

Kata kunci : doa sesudah berhubungan suami istri | pengertian sighat | gambar hubungan intim | gambar perceraian | pengertian sigat | bab talak dalam islam | gambar jima |
Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.) Reviewed by pendidikan islam on . Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.)

PENDAHULUAN Masuk-islam.com – Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai perceraian/Cerai Talak setalah pada bab yang lalu telah dibahas mengenai Pernikahan atau Perkawinan, Cerai atau Perceraian Nikah Dalam Islam disebut dengan istilah Talak. Pada Bab ini masuk-islam.com akan mengupas tuntas mengenai permasalahan seputar cerai. Bab-bab yang akan dibahas di sini adalah Pengertian Cerai/Talak menurut bahasa [...]

Rating: 5

63 comments on “Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.)

  1. ridhani on said:

    Assalamu’alaikum, apakah talak yg sy ucpkn lwt sms kpd isti sy sah dgn prktaan spt ini” kamu sy tlak tlak 3″.

  2. Apakah setelah sudah nengajukan cerai talak namun ingin rujuk sebelum proses PA dijalankan apakah bisa&bagaimana?

    • pendidikan islam on said:

      kalo dalam islam sih rujuk bisa kapan saja, masalahnya kan kita negera hukum, dan harus mematuhi hukum yg ada di indonesia

  3. akhmad hadi kusumah on said:

    ass.
    apakah saya dapat mendownlod bab di ata untuk dapat mengkaji ulang dalam mata kuliah hukum perdata islam,

  4. dewi hastuti on said:

    ass wr wb.. kalo suami sudah mengucapkan kata cerai selama 3 kali, suami hrs menceraikannya kan, tp sampai saat ini suami-istri masih tinggal dan berhubungan dlm 1 rumah, trus proses cerai agar tidak berbelit-belit bgm ya, tdk hrs menghadirkan saksi, orang tua atau sodara kan… mksihh

    • pendidikan islam on said:

      kalo sudah mengucapkan kata cerai 3 kali berarti sudah termasuk cerao.
      Proses cerai kalo dalam islam tidak berbelit-belit, yang bikin berbelit-belit adalah birokrasi pemerintahan kita, jadi mau tidak mau ya harus ngikutin peraturan pemerintah.
      Gak harus ada saksi

  5. husni on said:

    Apa hukumnya perempuan yang dalam status iddah membuat hubungan dgn lelaki lain?

  6. deny on said:

    Sy butuh pencerahan, ada tmn sy sudah mengucapkan talak lbh dr 10x tp dia tdk mengatakan talak, hanya bilang kita cerai atau berpisah saja. Apakah itu termasuk talak? Dua2nya pns, sdh mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, krn di birokrasi pemerintahan berbelit2 surat dr bupati dipending krn istrinya tdk mau di cerai. Setelah itu dia sudah 1 tahun pisah rmh, skr mrk rujuk lg n menikah ulang tanpa adanya saksi dr ortu yg mempelai laki2. Yg ingin saya tanyakan. Apakah pernikahan mereka sah atau tidak??

    • pendidikan islam on said:

      Ya Termasuk Sudah Talak.
      Pernikahan sah, saksi tidak harus dari orang tua laki-laki, yang penting ada 2 orang saksi laki-laki, selengkapnya baca pengertian nikah di sini http://www.masuk-islam.com/pembahasan-mengenai-nikah-lengkap-pengertian-nikah-rukun-dan-syarat-nikah-dalil-nikah-hukum-nikah-tujuan-dan-manfaat-nikah.html

      • deny on said:

        Apabila mereka rujuk lagi, tetapi sdh pernah pisah ranjang selama 1 tahun dan sdh pernah mengatakan talak lebih dr 3x, dan skr mereka menikah kembali. Sah atau tidak pernikahannya, hukumnya apa dlm agama islam. Krn yg laki2nya ragu dgn pernikahan mereka? Makasih dgn jawabannya

  7. assalamualaikum,saya mau bertanya apakah hukumnya jika suami menyebutkan kata cerai saat sedang dalam perjalanan tanpa ada saksi ?

    • pendidikan islam on said:

      @vie–.sudah termasuk cerai, maka dari itu seorang suami tidak boleh sembarangan ngomong cerai, walaupun bercanda.
      Cerai tidak butuh saksi, yang butuh saksi adalah nikah

  8. rinda on said:

    suami sudah mengucapkan talaq 1, istri nkondisi normal dalam arti tidak sedang haid dan tidak sedang hamil, berapa lama masa iddahnya?

    • pendidikan islam on said:

      Istri yang ditalak tidak dalam keadaan hamil dan masih haid secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haid yang sempurna(QS Al-Baqarah 2:228

  9. Assalamu alaikum ustadz Apakah ini termasuk Kata thalak (“mudah mudahan perkawinan di percepat pisah aja deh saya udah anggap km perempuan gak benar)begitu isi sms saya ke istri saya pak ustads.tolong pencerahanya ya .terima kasih

    • pendidikan islam on said:

      @adi–>tergantung niat anda, jika sms anda bertujuan supaya bercerai, maka sudah terjadi talaq, tapi jika sms anda bertujuan supaya istri anda menuju ke jalan yang benar, maka belum terjadi perceraian.
      WALLAHU ‘A’LAMUBISHOOWWAB

  10. fira on said:

    kewajiban istri yang sudah ditalak 1 selain menunggu 3 kali masa suci apa saja, apakah masih harus tetap mengurusi keperluan suami seperti biasanya atau kewajiban itu sudah lepas. terima kasih

    • pendidikan islam on said:

      @fira->sudah lepas kewajiban istri, kan sudah cerai

      • rahman on said:

        apakah masih wajib mengurus rumah tangga misalnya nyiapin makan, masak, ngurus anak2 dll?

        bolehkan istri yg sudah ditalak 1 masih mencium tangan suaminya? (artinya bersentuhan saja)

        • pendidikan islam on said:

          Rujuk dulu, dengan mengucapkan taklik atau kata rujuk

          • rahman on said:

            terimakasih.
            artinya suami-istri itu tdk boleh bersentuhan lagi begitu ya?
            saya pernah membaca, bahwa suami boleh “melihat” istrinya, misalnya sehabis istrinya mandi dia keluar dan si suami masih boleh melihat aurat si istri?
            apa ini betul?
            mohon jawaban

  11. ozhac on said:

    ass ustadz jikalau kita sedang bertengkar kemudian istri mengucapkan minta cerai sambil menangis atau merengek hanyahkan niat untuk meredakan amarah snag istri sang suamipun mengatakan kata cerai namun setelah itu istripun kemudian diam dan melupakan soal pertengkaran itu.tolong ustadz mohon penjelasannya dan apa yang harus saya lakukan.

    • pendidikan islam on said:

      kalau suami mengiyakan berarti sudah terjadi cerai, oleh karena itu lain kali janganlah anda sembarangan mengucapkan kata cerai

  12. nani on said:

    Suami sebot aku cerai kau talaq 3 ketika sedang hamil.
    Tapi dengan tiada niat dan dalam keadaan marah yang tak dapat
    dikawal.jatoh ngak talaq nya?

  13. lutfi on said:

    ass..saya dalam tdk sadar dah katakan cerai sekali kpd istri,apa itu sah n gmana hukumnya bisa rujuk kmbali??

  14. Risky on said:

    assalamu’alaikum pa ustadz. saya beberapa kali kerap mengucapkan kata cerai saat sedang marah sama istri, tapi selalu baik lagi tanpa ada kata-kata rujuk (hanya maaf biasa). sampai terakhir beberapa hari yang lalu saya kembali mengucapakan kata cerai kembali untuk kesekian kalinya. apakah secara agama saya sudah cerai dengan istri saya? dan minta penjelasan tentang ketentuan talak 1 sampai talak 3. apakah saya sudah menjatuhkan talak tiga pada istri saya?

    • pendidikan islam on said:

      Kalau anda mengucapkan talak lebih dari 3 kali, berarti sudah terjadi talak 3, dan untuk rujuk maka istri anda harus menikah dulu dengan orang lain kemudian cerai, baru boleh rujuk dengan anda, DENGAN CATATAN, nikahnya tidak boleh di rekayasa, dan jika nikahnya di rekayasa maka hukumnya haram

  15. adi.arema14@yahoo.com on said:

    ”asalamu’alaikum wr.wb……………
    suami ditinggal istri kerja keluar negeri sampai 2 thn lebih, menurut hukum agama islam itu bagaimana……….?apakah bisa di bilang cerai, terima kasih tlg balasan n penjelasannya, wasalam”

  16. anita terasitha on said:

    ass saya mau tanya ,suami saya mengatakan mulai malam ini kamu bkn istri ku lagi.aku bukan suami mu lagi apakah ini sdh sah talak ?
    apakah kami msh bisa tngga srumah?,apa perlu urus ke pa?
    apa sayamasih punya kwajiban mngurus suami.dan apabia k luar rumah msh hrs izin suami?smp hari ini suami msh memberi nafkah
    sukron ustad

    • pendidikan islam on said:

      @anita–>sudah termasuk talak, dan harus memperbarui nikah tapi tidak perlu ke pengadilan agama, cukup rukun nikah saja terpenuhi
      wallahu a’lamu bisshowwab

  17. anita terasitha on said:

    ass.saya mau tanya boleh tdk saudara seibu tapi lain ayah menikah kan saudara perempun nya?
    sblm mnkah saya sdh memiliki rumah .jika terjadi perceraian apakah rumah saya itu harus kami bagi dua? sukron ustad

  18. Assalamu’alaikum..
    Ustad, saya ada masalah dg suami: suami menikahi saya tanpa dasar cinta sebab dia masih mencintai mantan pacarnya dan selama 10 tahun penikahan dia masih berhubungan mesra dengan mantannya. Sikap dia terhadap saya tidak selayaknya seorang suami yg mencintai istrinya. Selain itu, mertua saya juga tidak menyukai sy dan sering menyuruh suami menceraikan saya. Sampai anak saya 4, saya mencoba bersabar dan bertahan karena melihat anak2. (saya dulu sering minta cerai tapi suami menolak – dia berjanji akan belajar mencintai saya, tapi sepertinya dia tidak bisa). Dia membenci saya alasannya saya menyakiti ibunya. Padahal sebaliknya, Ibunyalah yg sering menyakiti saya dg perkataan, baik sindiran ataupun hinaan – tapi saya tidak melawan (sy takut dan tahu dg hukum agama). Tapi yg disampaikan kesuami lain halnya.

    Tapi saat ini saya pikir saya lebih baik hidup sendiri dengan anak saya. Suami sudah menawarkan kalau saya mau tinggal sendiri, berapa saya minta modal akan dimodali atau harta gono gini dibagi dua. Saya hanya takut akan: “peceraian adalah halal tapi sangat dibenci Allah).” Tapi untuk tinggal bersama dia sepertinya hati saya tidak sanggup, dia memberatkan saya hanya karena anak2. tapi untuk dianggap suami bagi saya, batin saya menangis.

    Apakah dosa jika saya minta berpisah? Apakah memang Allah membenci saya nantinya? Suami sudah sy kasih tahu, kalau sama istri itu harus baik, mencintai dan tidak menyakiti (sy selalu salah dimatanya, jarang ada waktu untuk saya, tidur tidak satu ranjang – alasannya karena anak2). tapi dia merasa dia sudah baik sama saya dan sudah mencukupi kewajiban sebagai suami.

    Saya maunya tinggal dikampung ortu jauh dari suami tanpa minta cerai.

    Mohon nasehat ustad.

    • pendidikan islam on said:

      @Ria–>Kalau suami masih berhubungan mesra dengan mantannya, berarti dia sudah selingkuh dari anda.
      Hukum cerai menjadi wajib jika ada pihak yang tersakiti dan suami istri sudah tidak dapat di damaikan lagi !

  19. hermansyah on said:

    Ass..
    Ingin menanyakan,, saya bertengkar dengan istri saya dan dalam keadaan emosi, saya mengucap ” Rapihkan baju kamu, saya antar kerumah orang tua mu dan surat” nikah tolong dipersiapkan akhir bulan aku urus smua”. Yang saya tanyakan apakah perkataan saya tersebut sudah termasuk “Talak” ? Karena seusai emosi saya reda saya sadar akan kesalahan perkataan saya tersebut. Mohon pencerahaannya, syukron..

    • pendidikan islam on said:

      @Hermansy->sudah termasuk talak meskipun dalam keadaan emosi, oleh karena itu ucapan-ucapan yang mengandung arti talak hendaknya tidak mudah untuk diucapkan meskipun dalam keadaan emosi, jika anda emosi silahkan ambil air wudhu supaya dapat meredahkan amarah anda

      • hermansyah on said:

        Dan sore hari tadi, saya langsung menjemput istri saya dirumah orang tuanya seraya berkata maaf atas perkataan saya. dan kini kami telah berkumpul kembali dirumah. Dan seperti isi artikel diatas, wanita yang sedang haid HARAM di talak. Dan saya baru sadari bahwa istri saya sedang haid dari 2 hari yang lalu.
        Terima kasih atas pencerahannya, ilmu dan informasi yang bermanfaat untuk saya …

  20. hsaputra on said:

    Assalamu’alaikum..
    saya dulu pernah berantem sama istri, trus keluar kata2 seperti ini,
    pisah aja dech kalo kayak gini mulu, capek.tapi saya tidak ada niat untuk cerai. hanya untuk shock teraphy saja, agar istri lebih nurut lagi ama saya. trus saya juga pernah bilang kayak gini: pisah ada dech kalo kayak gni.kamu keras kepala.
    bagaimana hukumnya ustad ?? saya gak tau lagi udah berapa banyak kata pisah yang terucap dari mulut saya, tapi pisah yg saya maksudkan bukan meceraikan atau mentalak, hanya untuk menggertak saja,mohon pencerahannya ustad..
    wassalam…

  21. chusnul on said:

    Ass. pa ustadz saya mau tanya apakah sah apabila suami mengucapkan talak kepada istrinya satu kali terus bagai mana cara rujuk kembali apa perlu diadakan akad nikah lagi.Terus dari pihak perempuan harus ada wali atau tidak.

  22. mazlan on said:

    Salam.sya ingin bertanya sya telah bergaduh n telah menceraikn isteri dlm keadaan marah teramat sgt.kemudian sya telah gaduh lg dgn isteri sya dlm keadaan marah.lalu sya menceraikn isteri sya..selang beberapa bulan kami bergaduh lg dlm keadaan marah isteri mencabar sya sekiranya sya tidak melepaskannya sya dianggap dayus ketika itu anak sya sedang menangis.isteri sedang mendukung anak dlm keaadaan menangis utk pergi ke sya isteri tidak bagi anak sya.waktu tu sya dalam keaadaan tertekan dgn anak menangis lepas tu dlm keadaan marah dan tertekan dgn isteri tidak benarkn sya mendukung lalu tanpa berfikir panjang sya telah menceraikannya dengan talak 3.adakah talak yg berikan kepada isteri sya jatuh ketika dlm keadaan marah ketika itu.sya jenis panas baran.tolong bg sya komen

  23. land on said:

    Mau nanya donk.. Suami saya baru saya mentalak 1 kepada saya.. Tetapi keadaannya saya dan suami tinggal drumah saya,, anggep saja suami tinggal dirumah mertua,, yg saya baca kalo baru talak 1,, istri tetap harus d rumah suami, dan masii melakukan kewajiban sbg istri kecuali bersenggama dan istri tdk boleh kluar dr rumah suami selama masa iddah,, kalo misalkan kebalikan kaya skrg,, saya dan suami tinggal drmh mertua (org tua saya) bagaimana itu?? Trims..

    • pendidikan islam on said:

      harus rujuk dulu sebelum masa iddahnya habis, kalau masa iddahnya sudah habis maka harus memperbarui akad nikah dan mahar yang baru

  24. faiz on said:

    Ass…..mau tanya kalo istri sdh pisah sama suami lbh dr 2thn….itu gmn dlm hukum agama islam?…apakah sdh cerai dlm agama?

  25. Hidayat on said:

    istri saya turun dari rumah tanpa pamit. Alasan turun karena ingin bebas kerja di luar rumah. sementara saya mampu menafkahi istri dan anak2 saya. Anak dari istri saya dari suami pertama pun saat ini tinggal dengan saya. Istri saya lewat sms ingin pisah dan menurut istri saya, dia sudah ke Pengadilan Agama untuk mengajukan proses cerai. Pertanyaan saya, apakah gugatan cerai istri saya akan di terima oleh Pengadilan Agama…??? Jika di terima oleh Pengadilan Agama, apa hak istri saya mengenai harta bersama…??? Sekedar informasi, saya sekarang mempunyai pekerjaan tetap dan mendapatkan gaji setiap bulan. saya barusan membuat tempat kost di rumah saya ( peninggalan ortu & masih nama ibu saya di sertifikat ) dan saya juga warnet di rumah. Saya juga pernah memberikan pinjaman kepada orang tua istri saya dan saya membeli tracktor sawah dan saat ini ada di tangan mertua saya. Pertanyaan saya apakah istri saya mempunyai hak atas semua itu jika saya dan istri saya pisah…??? info terakhir adalah saya sangat mencintai istri saya dan tidak ingin pisah. Jika di lihat dari kacamata islam, istri saya termasuk istri yang durhaka karena sudah beberapa kali turun dari rumah. malah pernah pulang dalam keadaan hamil dengan lelaki kristen namun saya maafkan dan janin tersebut di gugurkan oleh istri saya. saya minta tolong di beri penjelasan ttg pertanyaan2 saya tersebut, terima kasih. wass.wr.wb.

    • pendidikan islam on said:

      @hidayat–>dilihat dari cerita anda, istri anda sudah tidak menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai istri bahkan membangkang dan mendhalilimi anda , tidak ada jalan lain selain TALAK, anda sebagai seorang imam di rumah tangga harus mempunyai sifat tegas, sepertinya mungkin juga karena anda kurang mempunyai ketegasan dalam sikap hal inilah yang membuat anda bisa disetir oleh istri anda.
      Point-point!
      *Kalau anda meminjamkan uang untuk membeli tracktor berarti anda berhak untuk menagihnya karena bukan hak mereka, kecuali jika anda dulu memberinya
      *Anda terlalu memanjakan istri anda dengan kemewahan dunia tanpa pendidikan agama, ini adalah kesalahan anda!
      *Anda telah dibutakan oleh cinta, simak hadist nabi yang bunyinya : cintailah sesuatu yang kamu cintai sekedarnya saja, boleh jadi apa yang kamu cintai nanti akan menjadi orang yang paling kamu benci, dan bencilah orang yang tidak kamu sukai sekedarnya saja, boleh jadi orang yang kamu benci menjadi orang yang paling kamu cintai. jadi intinya cinta tertinggi hanya kepada allah swt!

      • Hidayat on said:

        Kalau soal agama, kami hampir tiap malam perang mulut soal agama. Istri saya tidak mau menjadi istri yg soleha. Mulai dari sholat, pakai jilbab sampai cara bergaul yg baik. Saya sudah capek sekarang. Capek meladeni istri saya tersebut. Saya ingin pisah. Sudah cukup selama ini saya berkorban buat istri saya. yg jadi pertanyaan saya, apakah dengan status turun rumah tanpa ijin istri saya tersebut jika saya cerai akan mendapat hak nya ..??? Karena bagi saya istri saya adalah istri yg durhaka. Apakah istri yg durhaka kepada suami masih bisa memperoleh hak gono gini…???

  26. Dwi Rahmad on said:

    Ass… Ustadz… boleh bertanya?
    Saya pernah berkata pada istri saya… bahwa apabila kami bicara kasar sebanyak 40 kali maka kamu tercerai….(niatnya benar-benar menceraikannya)
    saya pernah bicarakan hal ini, apakah kamu pernah mendengar perkataan saya seperti ini, istri saya menjawab tidak mendengar…
    menurut saya bicara kata-kata kasarnya lebih dari 40 kali… apakah istri saya sudah tercerai??
    Sukron jzk atas jawabannya

    • pendidikan islam on said:

      Sudah tercerai — Asal bukan talak 3 masih bisa rujuk kembali–http://www.masuk-islam.com/pembahasan-rujuklengkap-pengertianrujuk-rukunrujuk-syaratrujuk-dan-cararujuk.html

  27. hamba Allah on said:

    Assalaamu’alaikum Ustadz, mau tanya.. saya pernah melakukan kesalahan kdp istri dan berakibat pertengkaran hebat, sampai istri saya mau pulang ke rumah ortunya…. akhirnya istri memaafkan saya dengan syarat saya tidak mengulangi perbuatan itu lagi, tetapi ternyata saya mengingkarinya ustadz…. apakah telak jatuh talak kepada istri saya ustadz.. makasih…

    • pendidikan islam on said:

      belum, karena anda belum berniat menceraikannya

      • hamba Allah on said:

        walaupun ketika itu istri saya bilang “kalau kamu mengulanginya lagi maka tidak ada lagi maaf” dan saya sudah mengiyakannya ustadz? tapi jujur dari hati saya yg paling dalam saya tidak ada niat menceraikan istri saya… walaupun berkali2 saya mengingkari janji saya ustadz.. mohon petunjuknya.. karena saat ini hati saya galau ustadz.. krn saya tidak berani bilang k istri, dan kalau saya bilang pasti saya akan ditinggalkannya.. dan saya sungguh berniat mau taubat ustadz…

  28. dawan on said:

    saya memberikan pembahasan masalah cerai intinya pendidikan kepada istri saya misalnya saya cerai kamu maka jika itu untuk memberikan pendidikan apakah jatuh atau tidak karena stahu saya jika kita memberikan pendidikan pada istri dengan tujuan menyampaikan ilmu maka tidak jatuh, betul tidak?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.