Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.)

Di Publikasikan 21 Apr 2013 // Oleh pendidikan islam // Kategori Munakahat (Pernikahan) //

PENDAHULUAN

cerai picsMasuk-islam.com – Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai perceraian/Cerai Talak setalah pada bab yang lalu telah dibahas mengenai Pernikahan atau Perkawinan,

Cerai atau Perceraian Nikah Dalam Islam disebut dengan istilah Talak. Pada Bab ini masuk-islam.com akan mengupas tuntas mengenai permasalahan seputar cerai.
Bab-bab yang akan dibahas di sini adalah Pengertian Cerai/Talak menurut bahasa dan istilah,Dasar hukum (dalil) tentang perceraian, Hukum Cerai, Rukun Perceraian,Jenis Perceraian,Ucapan Talak,Masa Iddah, Prosedur perceraian di pengadilan agama dll.
Selengkapnya dapat anda baca dibawah ini :

A. PENGERTIAN TALAK MENURUT BAHASA DAN ISTILAH

  • Pengertian Talak Menurut bahasa adalah melapas, Kata ath-thalaq ( الطَّلاَقُ) secara makna bahasa adalah isim mashdar kata thallaqa (طَلَّقَ), dan suatu isim mashdar menyamai mashdhar dari sisi makna tetapi berbeda dari segi huruf-hurufnya. Makna kata ini diambil dari kata al-ithlaq (الِإطْلاَقُ) yang artinya melepas. Hal itu karena pernikahan adalah ikatan (akad), apabila istri ditalak, lepaslah ikatan (akad) tersebut.
  • Pengertian Talak Menurut Istilah Syariahadalah melepaskan ikatan perkawinan (Arab, اسم لحل قيد النكاح) atau putusnya hubungan perkawinan antara suami dan istri dalam waktu tertentu atau selamanya.
    • Menurut Ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mengatakan bahwa talak adalah pelepasan ikatan perkawinan secara langsung untuk masa yang akan datang dengan lafal yang khusus.
    • Menurut mazhab Syafi’i, talak adalah pelepasan akad nikah dengan lafal talak atau yang semakna dengan itu.
    • Menurut ulama Maliki, talak adalah suatu sifat hukum yang menyebabkan gugurnya kehalalan hubungan suami istri.

    Perbedaan definisi diatas menyebabkan perbedaan akibat hukum bila suami menjatuhkan talak Raj’i pada istrinya. Menurut Hanafi dan Hanbali, perceraian ini belum menghapuskan seluruh akibat talak, kecuali iddah istrinya telah habis. Mereka berpendapat bahwa bila suami jimak dengan istrinya dalam masa iddah, maka perbuatan itu dapat dikatakan sebagai pertanda rujuknya suami. Ulama Maliki mengatakan bila perbuatan itu diawali dengan niat, maka berarti rujuk. Ulama syafi’i mengatakan bahwa suami tidak boleh jimak dengan istrinya yang sedang menjalani masa iddah, dan perbuatan itu bukanlah pertanda rujuk. karena menurut mereka, rujuk harus dilakukan dengan perkataan atau pernyataan dari suami secara jelas, bukan dengan perbuatan.
    Pembagian Talak

B. DALIL DASAR HUKUM PERCERAIAN TALAK

QS Al-Baqarah 2:229
الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْزَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئاً إِلاّض أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.

QS At-Talaq 65:1-7
أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لاَ تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلاَّ أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لاَ تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا*

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا* وَاللاَّئِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِن نِّسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللاَّئِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُوْلاتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا* ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنزَلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا* أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلاَ تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِن كُنَّ أُولاَتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُم بِمَعْرُوفٍ وَإِن تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى* لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Artinya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.(ayat 1)

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(ayat 2)

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(ayat 3)

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (ayat 4)

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (ayat 5)

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.(ayat 6)

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.(ayat 7)

C. HUKUM CERAI/TALAK

Hukum talak/perceraian itu beragam: bisa wajib, sunnah, makruh, haram, mubah. Rinciannya sbb:

  1. HUKUM TALAK/CERAI ITU WAJIB APABILA:
    a) Jika suami isteri tidak dapat didamaikan lagi
    b) Dua orang wakil daripada pihak suami dan isteri gagal membuat kata sepakat untuk perdamaian rumahtangga mereka
    c) Apabila pihak pengadilan berpendapat bahawa talak adalah lebih baik
    Jika tidak diceraikan dalam keadaan demikian, maka berdosalah suami
  2. HUKUM TALAK/CERAI ITU HARAM APABILA:
    a) Menceraikan isteri ketika sedang haid atau nifas
    b) Ketika keadaan suci yang telah disetubuhi
    c) Ketika suami sedang sakit yang bertujuan menghalang isterinya daripada menuntut harta pusakanya
    d) Menceraikan isterinya dengan talak tiga sekaligus atau talak satu tetapi disebut berulang kali sehingga cukup tiga kali atau lebih
  3. HUKUM TALAK/CERAI ITU SUNNAH APABILA:
    a) Suami tidak mampu menanggung nafkah isterinya
    b) Isterinya tidak menjaga martabat dirinya
  4. TALAK/CERAI HUKUMNYA MAKRUH APABILA:
    Suami menjatuhkan talak kepada isterinya yang baik, berakhlak mulia dan mempunyai pengetahuan agama
  5. TALAK/CERAI HUKUMNYA MUBAH APABILA
    Suami lemah keinginan nafsunya atau isterinya belum datang haid atau telah putus haidnya

D. RUKUN PERCERAIAN/ TALAK

Ada 2 faktor dalam perceraian yaitu suami dan istri. Masing-masing ada syarat sahnya perceraian.

  1. Rukun Talak bagi Suami
    • Berakal sehat
    • Baligh
    • Dengan kemauan sendiri
  2. Rukun Talak bagi Isteri
    • Akad nikah sah
    • Belum diceraikan dengan talak tiga oleh suaminya
  3. Lafadz/teks talak:
    • Ucapan yang jelas menyatakan penceraiannya
    • Dengan sengaja dan bukan paksaaan

E. JENIS PERCERAIAN/MACAM-MACAM TALAK

  1. TALAK MENURUT LAFALNYA

    • Talak dengan lafal shorih (jelas)yaitu ucapan talak yang tidak harus disertai niatContoh: suami berkata kepada isterinya; “kamu saya talak” perkataan seperti ini adalah jelas. Maka tidak diperlukan niat. Ucapan suami yang seperti ini baik bergurau, niat ataupun tidak ada niat tetap dapat menjatuhkan talak.
    • Talak dengan lafal kinayah (sindiran)yaitu ucapan talak yang bisa jatuh jika disertai niat.Contoh; suami berkata: “pulanglah engkau kerumah orang tuamu.” Jika suami berkata dengan sindiran, dan disertai niat, maka jatuhlah talaknya, tetapi jika tidak disertai niat maka tidak jatuh talak.
  2. TALAK MENURUT WAKTUNYA

    • Talak sunni yaitu talak yang dijatuhkan pada saat isteri dalam keadaan suci (setelah selesai haid) dan belum di kumpuli (disetubuhi)
    • Talak bid’i yaitu talak yang dijatuhkan pada saat isteri sedang dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci tetapi sudah dicampuri (disetubuhi) talak seperti ini hukumnya haram.
  3. TALAK MENURUT JENISNYA

    • Talak mati yaitu talak yang disebakan karena suami meninggal dunia
    • Talak hidup yaitu yang dikarenakan oleh suatu sebab
    • Talak roj’i yaitu talak yang masih diperbolehkan rujuk kembali
    • Talak ba’in yaitu talak yang tidak diperbolehkan untuk rujuk kembali, jika menginginkan untuk dikawini harus dengan jalan akad nikah baru.
      • Talak ba’in sughra (kecil)yaitu talak ba’in yang jika ingin dikawini lagi, harus dengan jalan akad nikah yang baru tanpa ada syarat yang beratContoh: talak satu atau dua yang sudah habis masa iddahnya
      • Talak ba’in kubra (besar)yaitu talak ba’in yang jika ingin kawin lagi, harus dengan jalan akad nikah baru, dan dengan syarat yang berat.Sudah jatuh talak ketiga, jika ingin kawin lagi tidak diperbolehkan, kecuali bekas isteri sudah dinikahi oleh orang lain, sudah ditalak dan telah habis masa iddahnya dan sudah pernah berhubungan layaknya suami isteri.
  4. TALAK MENURUT PELAKU PERCERAIAN

    • Talak yang dijatuhkan suami kepada istri
    • Talak yang dijatuhkan Istri Kepada Suami / GUGAT CERAI
      Yaitu perceraian yang dilakukan oleh istri kepada suami. Cerai model ini dilakukan dengan cara mengajukan permintaan perceraian kepada Pengadilan Agama. Dan perceraian tidak dapat terjadi sebelum Pengadilan Agama memutuskan secara resmi.Ada dua istilah yang dipergunakan pada kasus gugat cerai oleh istri, yaitu fasakh dan khulu’:

      1. Fasakh
        Fasakh adalahpengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dalam kondisi di mana:

        • Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
          Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);
        • Suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suamii istri); atau
        • adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.Jika gugatan tersebut dikabulkan oleh Hakim berdasarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan (tafriq) hubungan perkawinan antara keduanya.
      2. Khulu’
        Khulu’ adalah kesepakatan penceraian antara suami istri atas permintaan istri dengan imbalan sejumlah uang (harta) yang diserahkan kepada suami. Khulu’ disebut dalam QS Al-Baqarah 2:229

      Efek Hukum dari gugat cerai oleh istri baik Fasakh maupun Khulu’ adalah talak ba’in shughra (talak ba’in kecil).
      TALAK BA’IN SHUGHRA adalah hilangnya hak rujuk pada suami selama masa ‘iddah. Artinya, apabila lelaki tersebut ingin kembali kepada mantan istrinya maka ia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut. Sementara itu, istri wajib menunggu sampai masa ‘iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain.

 

F. BEDA TALAK RAJ’I, TALAK BA’IN SUGHRA, TALAK 3 (BA’IN KUBRO)

Dari seluruh uraian seputar talak/perceraian di atas dapat disimpulkan bahwa talak ada 3 macam yaitu talak raj’i, talak ba’in sughra (kecil) dan talak ba’in kubra atau talak 3. Perbedaan ketiganya adalah sbb:

  1. Talak Raj’i (Rujuk)
    Adalah cerai talak oleh suami dengan level talak 1 (satu) dan talak 2 (dua). Dengan status talak raj’i, maka suami boleh rujuk atau kembali pada istri yang dicerainya selama masa iddah tanpa harus akad nikah baru. Namun apabila keinginan rujuk tersebut setelah masa iddah habis, maka harus diadakan akad nikah baru.
  2. Talak Ba’in Sughra (Kecil)
    adalah perceraian yang disebabkan oleh gugat cerai oleh istri baik dengan cara fasakh atau khuluk. Dalam kondisi ini, maka (a) suami tidak boleh rujuk pada istri selama masa iddah; dan (b) suami boleh kembali ke istri setelah masa iddah habis dengan akad nikah yang baru.
  3. Talak 3 (Tiga) atau Talak Ba’in Kubro
    adalah perceraian di mana suami sama sekali tidak boleh rujuk atau kembali pada istrinya walaupun masa iddah sudah habis kecuali setelah istri menikah dengan laki-laki lain dan beberapa saat (bulan/tahun) kemudian pria kedua tersebut menceraikannya.

G. IDDAH (MASA TUNGGU)

Iddah adalah masa tunggu bagi istri yang dicerai talak oleh suami atau karena gugat cerai oleh istri.

Dalam masa iddah, seorang perempuan yang dicerai tidak boleh menikah dengan dengan siapapun sampai masa iddahnya habis atau selesai. Bagi istri yang ditalak raj’i (talak satu atau talak dua) maka suami boleh kembali ke istri (rujuk) selama masa iddah tanpa harus ada akad nikah baru.

Sedangkan apabila suami ingin rujuk setelah masa iddah habis, maka harus ada akad nikah yang baru.

Rincian masa iddah sbb:

  • Perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari, baik sang isteri sudah dicampuri (hubungan intim) atau belum (QS Al-Baqarah 2:234).
  • Istri yang dicerai saat sedang hamil, maka masa iddahnya sampai melahirkan (QS At-Talaq 65:4).
  • Istri yang ditalak tidak dalam keadaan hamil dan masih haid secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haid yang sempurna(QS Al-Baqarah 2:228).
  • Jika wanita yang dijatuhi talak itu masih kecil, belum mengeluarkan darah haid atau sudah lanjut usia yang sudah manopause (berhenti masa haid), maka iddahnya adalah tiga bulan (At-Thalaq 65:4).
  • Wanita yang pernikahannya fasakh/dibatalkan dengan cara khulu’ atau selainnya, maka cukup baginya menahan diri selama satu kali haid.
  • Wanita yang dicerai-talak sebelum ada hubungan intim, maka tidak ada masa iddah.

 

H. PROSEDUR PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA

Ada beberapa tahapan dalam melakukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama baik menyangkut cerai talak oleh suami atau cerai gugat oleh istri sbb:

    1. PROSES CERAI TALAK OLEH SUAMI DI PENGADILAN AGAMA
      Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau Kuasanya:

      • Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal 66 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah tentang tata cara membuat surat permohonan (Pasal 119 HIR, 143 R.Bg jo. Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika Termohon telah menjawab surat permohonan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Termohon.
      • Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah :
        • Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989);
        • Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Pemohon, maka permohonan harus diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989);
        • Bila Termohon berkediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (3) UU No. 7 Tahun 1989);
        • Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 66 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989).
      • Permohonan tersebut memuat :
        • Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon;
        • Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
        • Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
      • Permohonan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak atau sesudah ikrar talak diucapkan (Pasal 66 ayat (5) UU No. 7 Tahun 1989).
      • Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR, 145 ayat (4) R.Bg. Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 R.Bg).
      • Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 121, 124, dan 125 HIR, 145 R.Bg).

      Proses Penyelesaian Perkara

      1. Pemohon mendaftarkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah.
      2. Pemohon dan Termohon dipanggil oleh Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah untuk menghadiri persidangan.
      3. Tahapan persidangan :
        • Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
        • Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR, 158 R.Bg).
          Putusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah atas permohonan cerai talak sebagai berikut :
        • Permohonan dikabulkan. Apabila Termohon tidak puas dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syarhah tersebut;
        • Permohonan ditolak. Pemohon dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah tersebut;
        • Permohonan tidak diterima. Pemohon dapat mengajukan permohonan baru.
      4. Apabila permohonan dikabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka :
        • Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah menentukan hari sidang penyaksian ikrar talak;
        • Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah memanggil Pemohon dan Termohon untuk melaksanakan ikrar talak;
        • Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang penyaksian ikrar talak, suami atau kuasanya tidak melaksanakan ikrar talak didepan sidang, maka gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut dan perceraian tidak dapat diajukan lagi berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat (6) UU No. 7 Tahun 1989).
      5. Setelah ikrar talak diucapkan panitera berkewajiban memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989);
    2. PROSES GUGAT CERAI OLEH ISTRI DI PENGADILAN AGAMA
      Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya :

      1. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah tentang tata cara membuat surat gugatan (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo. Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Tergugat.
      2. Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah;
        • Bila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Tergugat, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989 jo Pasal 32 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974);
        • Bila Penggugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama/mahkamah syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (2) UU No.7 Tahun 1989);
        • Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’aah yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No.7 Tahun 1989).
      3. Permohonan tersebut memuat :
        • Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon;
        • Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
        • Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
      4. Gugatan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 86 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989).
      5. Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR, 145 ayat (4) R.Bg. Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989), bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 R.Bg).
      6. Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah (Pasal 121, 124, dan 125 HIR, 145 R.Bg).

      Proses Penyelesaian Perkara

      1. Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah
      2. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama/mahkamah syar’iah untuk menghadiri persidangan
      3. Tahapan persidangan :
        • Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
        • Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
        • Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR, 158 R.Bg);
          Putusan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah atas permohonan cerai gugat sebagai berikut :

          • Gugatan dikabulkan. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah tersebut;
          • Gugatan ditolak. Penggugat dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah tersebut;
          • Gugatan tidak diterima. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru.
        • Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap maka panitera Pengadilan agama/mahkamah syar’iah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak.

I. Hal-Hal Yang Terjadi Akibat Perceraian (Talak)

Hadhanah yaitu mengasuh atau mendidik anak yang belum mengerti tentang sesuatu yang baik untuknya, atau yang membahayakan dirinya.
Dalam uraian kewajiban suami isteri adalah mendidik dan memelihara anaknya, permasalahan yang timbul disini kalau terjadi perceraian antara suami isteri, siapakah yang lebih berhak untuk mengasuh anaknya.
Sabda Rasulullah saw yang artinya :“diceraikan dari Umar bin Suaib dari ayah dan kakeknya, sesungguhnya suatu hari ada seorang perempuan datang menemui Rasulullah: Ya Rasulullah anak inio saya kandung, saya susui, saya besarkan, sedangkan ayahnya menceraikan saya dan akan mengambil anak ini dari saya, Rasulullah menjawab : engkau lebih berhak mengasuh anak ini sebelum kamu menikah.” (HR. Abu Dawud)

Dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Orang yang paling berhak mengasuh anak adalah ibunya, selama anak tersebut masih kecil dan belum cakap, mengenai pemeliharaan ditanggung ayahnya.
2. Apabila ibu telah menikah hak mengasuh ada pada ayahnya.
3. Apabila anak telah dewasa dan mengerti apa yang baik untuk dirinya, maka ia diberi kebebasan untuk memilih antara ibu dan ayahnya.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW berkata, seorang anak diberi kebebasan memilih antara ayah dan ibunya.” (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi).

Syarat bagi orang yang memiliki hak asuh :
1. Berakal sehat
2. Merdeka
3. Beragama Islam
4. Dapat memelihara kehormatan anak yang diasuh
5. Dapat dipercaya
6. Berdomisili (tinggal) di wilayah anak tersebut diasuh
7. Tidak memiliki suami

Demikianlah pembahasan Talak /Cerai yang selengkap-lengkapnya dapat kami sampaikan, mohon maaf jika ada yang kuran ataupu kesalahan!

Referensi/Rujukan :
- Kitab Al-Umm oleh Imam Syafi’i
– Kitab Al-Majmuk Syarah Muhadzab oleh Imam Nawawi
– Kitab Fathul Wahhab oleh Abu Zakariya Al Anshari.
– Kitab Fathul Qorib oleh Al-Ghazi

saktirangkuti.blogspot.com/2013/01/pengertian-talak-atau-perceraian-dalam.html

Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.) pendidikan islam 21 Apr 2013. Pembahasan Lengkap Mengenai Perceraian/Talak Dalam Islam (Pengertian Cerai, Hukum cerai, Syarat & Rukun, Dalil Tentang Cerai,Masa Iddah, Macam-Macam Cerai dll.)

PENDAHULUAN Masuk-islam.com – Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai perceraian/Cerai Talak setalah pada bab yang lalu telah dibahas mengenai Pernikahan atau Perkawinan, Cerai atau Perceraian Nikah Dalam Islam disebut dengan istilah Talak. Pada Bab ini masuk-islam.com akan mengupas tuntas mengenai permasalahan seputar cerai. Bab-bab yang akan dibahas di sini adalah Pengertian Cerai/Talak menurut bahasa […]

4.9 pendidikan islam

168 Komentar

  1. nurul aflah says:

    Ustad.. suami mengatakan kpd wanita lain bahwa kami sudah tidak suami istri lagi,pdhl sekali pun belum keluar dari mulutnya kata cerai. Apakah itu jatuh talak? Terima kasih.

  2. Dian Widiawati says:

    assalamualaikum
    pk ustadz saya mau bertanya, dalam keadaan suci suami saya sudah menalak saya untuk ke tiga kalinya, tapi dia ingin rujuk kembali dengan saya dan berjanji akan merubah sikap, keinginin suami juga di dukung oleh keluarga besar saya, tapi saya tetap tidak mau karena saya tau haram hukumnya rujuk dengan suami kalau sudah di talak 3 kali kecuali saya harus menikah dulu, tapi saya keluarga saya bilang kalo saya tidak mau rujuk lagi dengan suami maka saya akan di usir dari rumah, dan tidak lagi di akui anak oleh orang tua saya, bahkan saya juga sudah di larang lagi bertemu dengan 2 anak saya, keluarga saya bilang saya cerai dengan suami saya akan menjadi sampah, karena menurut ibu saya zaman sekarang banyak yangmengucap talak lebih dari 3 kali tapi masih bisa rujuk, saya bingung pk ustadz apa yg harus saya lakukan apa sy harus menerima rujuk dengan suami dan berzina seumur hidup dengan suami, atau saya merelakan anak2 dan keluarga saya pergi dari hidup saya, mohon saran nya pk ustadz

    • pendidikan islam says:

      Orang tua anda salah karena melanggar aturan agama dan anda tidak wajib mentaatinya, relakan saja anak-anak dan keluarga anda, insyallahllah Allah swt. akan memudahkan jalan hidup anda karena anda telah berjalan di jalan yang benar dan sesuai ridho Allah swt.

  3. andri says:

    ustad saya mau bertanya ada teman saya bercerai dgn suaminya karena sering berantem dan suaminya sudah bilang kamu bukan siapa2 aku lagi,aku sudah talak km mereka sudah berpisah sejak awal maret lalu suami mendaftarkan pengajuan cerai ke PA pada bulan april,dan pada sbelum terjadi ikrar di PA mereka mencabut lagi gugatan itu pada bulan oktober,karna istri memaksa suami utk rujuk,tapi ketika gugatan itu dicabut di PA mereka sbenernya sudah berpisah selama 7 bulan lebih tanpa suami memberikan nafkah kepada istri dan istri sudah melewati masa iddah,dan bagaimana hukumnya jika mereka rujuk apakah mereka harus menikah lagi atau tidak dan itu sudah termasuk talak berapa?mohon penjelasannya ustadz

    • pendidikan islam says:

      kalau suami sudah mengucapkan talak sudah tiga kali, berarti sudah talak tiga, maka untuk rujuk sang istri harus menikah dengan orang lain terlebih dahulu, jika di kemudian hari sang itri ternyata bercerai dengan suami barunya, maka boleh suami lamanya menikahinya kembali. akan tetapi jika bukan talak tiga maka boleh rujuk kembali dengan memperbarui akad nikah

  4. mie says:

    Assalamualaikum ustad sy telah melepaskan kata aku ceraikan kau ,kerana desakan isteri ,kerana isteri menggugut dngn mngunakan pisau,tpi saya ingin kan isteri sy lg,dlm 3x eddah belehkah kami duduk serumah dn tidur bersama??setelah sya mangatakan pd isteri dngan nama saya terima kamu sebagai isteri abg kembali…..*

    • pendidikan islam says:

      asal belum mengucapkan cerai 3 kali masih bisa rujuk tapi dengan memperbarui akad nikah baru (seperti nikah siri)

  5. nuraidah says:

    Ass… pak saya mau tanya kalo suami saya talak 3 saya sekaligus tanpa mengucap talak 1 dan 2 . Apa masih bisa rujuk lagi tanpa menikah dengan orang lain . Terima kasih

    • pendidikan islam says:

      Menurut pendapat yang paling kuat, bahwa talak tiga yang dinyatakan sekaligus maupun terpisah tetap jatuh tiga (semua tergantung niat, karena niat suami menjatuhkan talak tiga, maka jatuhlah talak tiga, walaupun dinyatakan sekaligus), Jadi, istri harus menikah dengan orang lain terlebih dahulu.
      Waalahu ‘Alamu Bisshowwab

  6. zulkarnaen sinaga says:

    Assalamualaikum wr wb…. saya mau tanya ni pk ustadz….. apakah seorang suami bisa menikah lagi kalau sudah bercerai dengan istrinya tanpa proses dari pengadilan agama….???? Sementara si istri sudah menikah lagi…. yg saya mau tanyakan apakah si suami tadi apa bisa menikah lagi walau proses dari pengadilan agama belum keluar lagi…??? Mereka bercerai sudah mau jalan dua tahun… terima kasih pak ustadz… Assalamualaikum wr wb….

  7. diana says:

    Salam… sy ingin mengajukan soalan. Sah atau tidak jika suami sy menceraikan saya dalam keadaan mengandungkan anak org lain

    • pendidikan islam says:

      sah, tapi menunggu masa iddah yaitu setelah melahirkan, otomatis tercerai, WALLAHU’ALAMU BISSHOWWAB

  8. hikmah says:

    Salam.apakah pria boleh menikah lagi tapi akte cerai masih dalam masa prose’s??

  9. hikmah says:

    Assalamlikum.saya mau brtanya,pacar say a sudh putus dri pngadilan agama tnggl mnunggu akte cerainya saja,tpi ingin menikah,apakah boleh mnikah do KUA klau blm Ada akte cerainya??

    • pendidikan islam says:

      kalau menikah di KUA tentu harus menunggu surat cerainya. tapi kalau secara islami membolehkannya, yaitu menikah sirri

  10. amalia kiki says:

    Assalamualaikun pak ustadz.sy sdh putusan cerai 13oktober 2014,suami sy setuju bercerai.namun trnyata dia melakukan banding meminta supaya sy ikut membayar hutang2 nya pdhl itu hutang itu timbul krna dia ditipu oleh karyawannya.apakah bs banding itu di kabulkan.
    Sekarang ini sy di lamar oleh duda,dan ortu sy menyarankan utk menikah siri stlh 3bln setelah putusan PA,pdhl akte cerai sy blm kluar krna proses banding.apakah sy boleh melakukan nikah siri dan syah di mata agama.mohon pencerahannya pak ustad.
    Trimakasi wassalamualaikum

  11. erwin ferdiyansah says:

    Assamualiikum warahmatullahi wabarakatuh, pak ust sy mo tnya sy mengucapkan kt2 cerai sampai 3x tp tdk dlm wktu yg bersamaan kepada istri sy tp sbnr’a dlm hati kecil sy tdk sm skali menginginkan perceraian pak,akan tetp istri sy ttp ingin mengajukan gugatan cerai ke sy,pertanyaan sy apakah cerai sy sah P ust

  12. erwin ferdiyansah says:

    Maav P ustad,tu walaupun inti’a sy cuma menggertak aj ttp bs d katakan SAH cerai sy&istri pabila sah klu sy hrs menunggu brp lama klu sy ingin menikah dgn istri sy lg pak,mksih tas saran’a pak

  13. dhedhe says:

    asalamu alaikum we web
    tolong pejelasan y sy puya temn yg udah dua kali ceyai misal y dia mau rujuk lagi apa bisa nga tlong pejelasan y makasih….

  14. ryanie says:

    Ass sy mw brtnya sy sdh brcerai dgn talak 3 dan klw mau rujuk lg sm mantan suami gk boleh ya dlm pndngn islam.mntan suami sy sdh mnikah lg tp saya blm thx ats infox…..

  15. calistha says:

    Assalamualaikum pak ustad..suami pernah dalam keadaan sangat marah karena saya jg dlm keadaan sangat marah menantang suami ,dengan sangat marah teriak,saya ceraikan kamu,tapi selang beberapa menit suami minta maaf dan saat itu jg kami berhubungan suami istri.apakah telah jatuh talak pada saya pak ustad??) Bbrpa th kemudian saya berantem hebat lagi,dia bilang ke papa saya,saya pulangkan anak papa,,tpi krna saya menangis suami tdk jadi pulang kerumah org tuanya,malam itu dia minta maaf dan kamipun berhubungan suami istri.Kemudian krna berantem lagi,kami sepakat mengajukan surat cerai,tapi suami sebelum masa idah mencabut gugatannya.tapi selama 1,5 th kami tdk serumah,,suami saat mencabut gugatannya sangat menenyesal dan membujuk saya utk berbaikan,karena sakit hati saya tidak mau.tapi setelah lebih setahun,saya liat banyak perubahan pd suami..dimana dia tdk temperamen kyk dlu lagi.sekarang kami ingin rujuk lagi..tpi saya takut klu saya sdh tertalak 3 kali.pak ustad..sdh berapakah talak yg jatuh pd saya..?apa yg disebut talak gugur…dan kenapa bisa dianggap gugur…saya mohon bantuan pak ustad..terimakasih sebelumnya pak ustad..wassalam

    • pendidikan islam says:

      Anda sudah tertalak tiga, dan anda harus menikah dulu dengan orang lain untuk bisa rujuk kembali dengan mantan sumai anda.

  16. Nuraini says:

    Assalamualaikum Pak Ustadz,, saya sekarang sedang mengalami dilema yg berat, sudah hampir satu tahun suami saya tidak memberikan nafkah lahir dan setiap saya meminta dia malah marah besar dan apa bila saya minta cerai dia mengancam saya harus pergi dari rumah dan meninggalkan anak2 saya, padahal rumah itu hasil jerih payah saya, saya yg bekerja untuk menafkahi anak2 jg suami, saya capek pak ustadz tapi jika saya menggugat cerai saya takut kehilangan anak – anak saya makanya saya bertahan smp sekarang walaupun batin saya tersiksa. Sekarang saya mohon nasihat dari pak ustadz apa yg harus saya lakukan. sebelum nya saya ucapkan terimakasih pada pak ustadz sudah berkenan membaca curahan hati saya.

    • pendidikan islam says:

      Kalau rumah itu memang hasil jerih payah anda, ya berarti itu memang hak anda, suami tidak ada hak untuk mengusir anda.
      Anak itu titipan Allah, kenapa anda harus takut kehilangan? kalau dia memang anak yang sholeh/sholehah pasti dia akan tetap sayang sama anda. jadi kenapa harus takut bercerai!
      Suami anda sudah tidak pantas menjadi imam dalam rumah tangga, karena sudah banyak melakukan banyak pelanggaran dalam agama, termasuk tidak menafkahi anda! jadi cerai adalah jalan terbaik kalau anda sudah tersiksa dan tidak mampu bertahan.

  17. anang tea says:

    assalamu”alaikum.Wr.Wb.

    saya mau nanya.. kalau seorang suami sudah mengatakan thalaq lebih pada 10 kali di depan ibu mertua dan saudarax … tetapi mereka tetap tinggal bersama dalam 1 rumah dan tidak mau pisah karena anak anaknya… anak anak mereka pun tau kalau ibunya sering di sakiti bapaknya dan anak anak mereka pun menginginkan ibunya pisah dengan bapaknya karena bapaknya anak anak ini seorang pemabuk penjudi suka main perempuan suka menganiaya ibunya sampai memar memar suka memukul wajah ibunya dan sampai mau membunuh ibunya dan anak anak mereka tidak punya daya karena takut pada bapaknya.
    bagaimana menurut islam tolong beri jalan keluar bagi kami……

    • pendidikan islam says:

      sudah tercerai dan harus pisah, tidak ada alasan karena anak.
      kalau terdapat kekerasan tinggal di laporkan ke pihak berwajib saja

  18. Wawan says:

    Assalamualaikum wr. wb Ustadz.,

    Mohon penjelasannya :
    A. 5 th yang lalu saya pernah marah besar kepada istri atas perbuatannya sampai terucap kata “saya cerai kamu” dan saya pulangkan istri saya kerumah orang tuanya hari itu juga. Pada saat dirumah orang tua nya saya begitu berharap kapada kakak-kakak istri yg kebetulan tinggal disana untuk menengahi masalah kami tapi ternyata saya tidak mendapatkan apa yang saya harapkan (kakak ipar angkat tangan atas masalah tersebut) dan pada saat itu juga saya membawa kembali istri saya kerumah karena selain melihat tidak ada pencerahan yang saya harapkan juga melihat kasihan anak kalau harus jauh dari ibunya. Pertanyaan saya pak ustadz, apakah sudah jatuh talak pada kejadian seperti itu? jika iya talak berapa? Apakah cara saya membawa kembali istri kerumah sudah merupakan bagian dari rujuk?
    B. Sekitar 1 th yang lalu istri saya kembali berulah yang membuat saya emosi besar tapi alhamdulillah saya bisa lebih sabar menhadapinya, pada saat itu sempat keluar kalimat, “Jika kamu melakukan hal seperti ini lagi dikemudian hari saya tidak akan berfikir ulang untuk menceraikan kamu”. Apakah kalimat tersebut bisa dikatakan talak?
    Mohon petunjuknya Pak Ustadz

    Jazakumulloh Khaoiron

    • pendidikan islam says:

      A. Ya sudah jatuh talak, membawa kembali istri kerumah belum tentu rujuk, tergantung niat anda!
      B. belum talak

  19. Baidi says:

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Mohon pencerahan Ustad.
    saya dah berumah tangga sekitar 20 thn. Problem selama ini kalo terjadi pertengkaran dlm RT. ujung2 nya istri ( profesi ibu rmh tangga ) minta cerai dan itu dilakukan ber ulang. Masalahnya macam2, mulai dari rasa tersinggung, soal masakan, soal diskusi yg saling berdebat, soal kebutuhan hidup sehari hari dan lain sebagainya yg. menurut saya tidak prinsip. semua itu berujung lontaran kata2 ceraidari mulut istri saya. Terhadap kata2 itu saya hanya geleng2 kepala dan trenyuh dan kalo dah spt itu hati ini dongkol yg akhirnya sy diemin istri saya ( tdk lebih dlm 1 hr ). Didiemin dia marah dan pergi keluar rumah walaupun hanya +/- 4 jam. Perlu diketahui sampai saat ini saya tdk selingkuh, penghasilan tiap bulan sy serahkan dia walaupun cukup tuk makan, saya insya Allah tdk pernah menyakiti dia lahir dan bathin. Alasan saya tdk menanggapi itu karena pertimbangan :
    1. Malu thd klg dan masyarakat
    2. Anak2 msh sekolah dan butuh bimbingan orang tua.
    3. Kasihan / Cinta dia ( istri ) ??? krn dikit banyak dia telah berjasa dlm rumah tangga.
    Pertanyaannya dan mhn pencerahan Ustad :
    1.apakah sdh terjadi talak terhadap lontaran kat2 cerai yg. diucapkan oleh istri saya yg berkali kali itu? walaupun saya tdk mengindahkannya krn diucapkan dlm kondisi marah?
    2. Adakah dalil berupa nash dan hadits baik yg menyangkut kebaikan maupun keburukan terhadap lontaran kata2 istri saya itu

    Demikian ustad mslhnya mhn pencerahannya.
    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    • pendidikan islam says:

      1. Belum terjadi talak, karena yang mengucapkan istri, kecuali jika anda yang mengucapkan talak
      2. Intinya ini adalah ujian bagi anda

  20. ts says:

    Assalamualaikum..
    Sdh hampir 14 thn saya berumahtangg dan sdh dikaruniai 3 org anak, thn 2014 saya dan istri bertengkar hebat krn saya dianggap tdk bs memenuhi kebutuhan rmh tangga kami hingga ibu mertua saya dtg kerumah utk menenangkan situasi. Sejak saat itu timbul rasa masa bodo kepada istri dan sampai saat ini sdh lebih dr 5 bln saya tdk menggauli istri saya krn saya mendengar dr tetangga klo istri saya sdh tdk sudi melayani saya lg. Pertanyaan saya, apakah perbuatan saya tsb termasuk talak ? Dan apa yg hrs saya perbuat ? Kemudian apa hukumnya pernyataan dr istri saya ?
    Terima kasih

    • pendidikan islam says:

      Belum cerai karena anda belum mengucapkan talak, yang harus anda perbuat adalah menceraikan istri anda. karena anda dan istri anda sama-sama sudah tidak peduli lagi

  21. ts says:

    bukannya tidak mau tapi selain prosesnya yang sulit juga harus ada alasan yang tepat dan bukti yang kuat untuk mendapatkan persetujuan dari kantor saya, mohon petunjuk.

    • pendidikan islam says:

      sesulit apa, kurang alasan yang tepat bagaimana, dan kenapa harus mendapat persetujuan kantor ? Kalau memang niat anda sudah kuat, semuanya akan mudah, tapi sepertinya niat anda masih kurang kuat sehingga semuanya terasa sulit bagi anda!

  22. nasya says:

    Assalamualaikum w.wb. Mohon penjelasannya,usia pernikahan qmi 8 thn dg seorang putra. Dua minggu lalu sy mengetahui suami sy berselingkuh, saya minta agar kami berpisah, tp dia tdk mau krn bjanji akan berubah,dan demi perkembangan anak qmi, tp krn saya trs memaksa, akhirnya dia berkata pd anak qmi,apabila orgtuanya pisah,anak kami hrs ikut ibunya. Dia mengatakan apakah saya sdh puas krn sdh mendengar ucapan itu, dan melihat akak qmi menangis. Apakah ucapan ini termasuk kata talak. Terima kasih sebelumnya. Wassalamu’alaikum wr.wb

    • pendidikan islam says:

      Keterangan anda menyebutkan “apabila orgtuanya pisah,anak kami hrs ikut ibunya” Kata “Apabila” mengandung bila dan akan,itu belum berarti mempunyai makna cerai.

  23. putri says:

    assalamu’alaikum

    maaf pak ustadz sya mau bertanya,sy sudah bercerai dengan mantan suami sy sejak 2014 dan akte cerainya jg sudah keluar,yang saya mau tanyakan adalah pada saat kami menikah dlu mantan suami sy memberikan mahar berupa seperagkat alat solat dan berhubung sekaang kami telah berpisah bagaimana dengan mahar sy tersebut harus diapakn,masihkah saya memakainya atau lebih baik saya mengembaliknnya,mohon penjelasannya pak karena saya bingung.

    teria kasih,wassalamu’alaikum

  24. priz says:

    Asslm..skrg saya sudah dlm proses di PA..tanggal 2 feb diminta kembali oleh mediator.. apabila saya tetap pada keputusan untuk tetap menggugat cerai..pada persidangan nanti apakah bisa mengubah keputusan saya? Saya yang telah menggugat karena suami saya tempramen..gampang main tangan..dan juga suka berkata kasar..tapi saya kasian dg anak yang tdk akan memiliki orgtua laki2 untuk tumbuh kembangnya padal baru berumur 1tahun..

    • pendidikan islam says:

      saya kurang begitu jelas dengan pertanyaan anda! Adanya kedua orang tua bukanlah jaminan bahwa tumbuh kembang anak akan menjadi baik.
      Anak akan terdidik tergantung siapa yang mendidiknya dengan benar dan lingkungannya

  25. tia says:

    Bagaimana hukumnya jika istri mintak cerai kepada suaminya setiap mereka bertengkar. Apakah suami harus menceraikannya atau bagaimana?

    • pendidikan islam says:

      Belum terjadi cerai, karena cerai mutlak hak suami, tapi istri bisa menggugat cerai lewat pengadilan

Silahkan Tingalkan Komentar Anda!