Pembahasan Lengkap Tentang Memuliakan Tamu Dalam Islam dan Adab Bertamu

Di Publikasikan 16 Des 2012 // Oleh pendidikan islam // Kategori Aqidah Akhlak, Dalam Islam //

A. PENDAHULUAN / MUQODDIMAH

adab bertamu dalam islam lengkapMasuk-islam.com – Islam mengajarkan setiap Muslim agar membangun hubungan baik, tidak saja dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Keharusan menghormati tetangga dan juga tetamu merupakan wujud dari doktrin sosial dan kemanusiaan Islam.

Para pakar hadis, seperti Ibn Hajar al-Asqalani, Imam al-Nawawi, dan juga al-Manawi, sependapat bahwa menghormati tamu tergolong adab Islam, akhlak para nabi, dan tata krama orang-orang mulia.

Dalam tradisi Islam, penghormatan terhadap tamu dilakukan antara lain menunjukkan wajah ceria dan semringah, bertutur kata dengan lemah lembut {thib al-kalam), menyediakan jamuan makan-minum dengan sebaik-baiknya, serta hangat dan menunjukkan rasa persahabatan.

Penerimaan tamu dengan cara yang istimewa adalah satu sifat keistimewaannya yang menyolok dari Yang Mulia Rasulullah s.a.w.

Yang Mulia Rasulullah s.a.w. tidaklah hanya menghormati para tamunya dengan penyediaan makanan yang baik saja, tetapi beliau pun memperhatikan keperluan-keperluan kecil dari para tamunya, dengan membawanya sendiri kepada mereka itu. Beliau menasihati kepada para pengikutnya untuk melakukan yang sama dan mengatakan, jika engkau menyatakan mencintaiku, maka ikutilah aku.

Penerimaan tamu yang secara baik itu beliau lakukan dengan tanpa berharap untuk memperoleh balasan kebaikan atau pujian, tetapi dikerjakannya itu hanyalah semata-mata untuk mentaati perintah dari Tuhan.

Beliau menasihatkan untuk menerima dan menghormati para tamu dengan cara yang istimewa untuk selama tiga hari apa yang diperlukan oleh para tamu. Beliau mengatakan, jika orang itu percaya kepada Tuhan dan Hari Kiamat, maka orang itu haruslah menghormati para tetamunya.

Penerimaan tamu oleh Nabi s.a.w. itu dikerjakan dengan penuh kegairahan dan semangat dalam pengkhidmatannya itu, tetapi beliau juga melaksanakannya untuk dijadikan contoh dari ajaran Islam kepada orang-orang dari agama atau kepercayaan lain atau orang-orang yang tidak beragama juga. Jadi, kita lihat bahwa adab penerimaan tamu ini bukan hanya sekedar untuk kesejahteraan pisik dan duniawi para tamunya itu saja, tetapi juga untuk kesejahteraan rohani atau spiritual mereka. Ini juga adalah ajaran yang beliau s.a.w. tanamkan kepada para pengikut beliau.

B. DALIL TENTANG MENGHORMATI TAMU

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ . قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَالِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, muliakan-lah tamunya.” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain, terdapat tambahan kata, “Penyambutan terbaik diberikan sehari semalam, sedangkan waktu penyambutan (penjamuan) adalah tiga hari. Penyambutan di luar itu adalah sedekah.” (HR Bukhari dari Abi Syuraih).

C. KISAH-KISAH YANG BERKAITAN DENGAN MENGHORMATI TAMU

  • KISAH1
    Satu kali, seorang tamu yang belum beriman datang kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w.. Nabi s.a.w. membawakan susu dari seekor kambing untuk disuguhkan kepadanya. Tamu ini meminum habis susu tersebut. Demikianlah semangkuk dan semangkuk susu terus disuguhkan kepada tamunya itu –atas permintaan tamunya- sampai ada 7 mangkuk susu dari 7 ekor kambing yang semuanya habis diminumnya. Orang tersebut merasa amat terkesan sekali atas tingkat penghormatan pada tamu ini yang dikerjakan Nabi s.a.w. dengan tanpa ragu-ragu dan tanpa mengharapkan balasan. Pada keesokan harinya orang tersebut menerima dan masuk Islam. Jadi, lagi-lagi, beliau harus mengambil susu lagi untuk diberikan kepada orang tersebut, yang meminumnya sampai habis dan masih belum merasa kenyang dengan dua kali tambah.
    Penjelasan
    Setelah itu, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa seorang beriman itu akan merasa kenyang dengan satu mangkuk sedangkan seorang yang belum beriman baru kenyang dengan meminum tujuh mangkuk. Huzur aba. menerangkan bahwa suguhan-suguhan itu pertama-tamanya diberikan untuk memenuhi kebutuhannya dan hanya ketika orang ini sudah menolak untuk minum susu lebih banyak lagi, maka barulah Nabi s.a.w. berkata dan memberitahu kepada orang tersebut, tentang kedudukan apa yang akan diperolehnya dengan masuk ke dalam Islam.
  • KISAH 2
    Suatu kali, seorang Yahudi yang sedang bertamu, dikarenakan sakit ia ngompol dan mengotori tempat tidurnya dan mungkin karena malunya ia langsung meninggalkan tempat itu. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. membersihkan sendiri bekas tempat tidurnya itu. Orang Yahudi itu ketinggalan sesuatu sehingga harus kembali lagi. Ketika orang tersebut melihatnya bahwa Nabi s.a.w. sendiri yang sedang membersihkan bekas tempat tidurnya yang ia basahi dan kotori itu, maka ia merasa sangat malu. Ia mengatakan, ia ingin masuk Islam.
  • KISAH 3
    Suatu kali, sebuah delegasi utusan dari Kaisar Najasyi datang berkunjung. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. membawakan hidangan bagi tamu ini yang dikerjakannya sendiri. Para Sahabat beliau bertanya mengapa Nabi s.a.w. sendiri yang harus melakukan hal itu padahal di sana ada Sahabat-sahabat beliau yang siap untuk mengerjakannya. Nabi s.a.w. menjawab bahwa orang-orang Najasyi itu telah menghormati orang-orang Muslimin, maka oleh karena itu beliau s.a.w. ingin membawakan sendiri hidangan bagi mereka itu sebagai balasan atas kebaikan mereka.
  • KISAH 4
    Suatu kali, datang seorang musafir kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. di mana beliau mengirimkan pesan ke rumah beliau untuk mengirim makanan. Jawaban dari rumahnya mengatakan tidak ada apa-apa di rumah kecuali air. Nabi s.a.w bertanya kepada Sahabat, siapa yang bisa menyediakan makanan. Seorang Anshar mengatakan ia bisa. Ketika Anshar itu pulang ke rumahnya dan minta istrinya untuk menyiapkan makanan bagi tamu, istrinya mengatakan hanya ada makanan yang cukup bagi anak-anak saja. Ia mengatakan kepada istrinya untuk menyalakan lampu dan anak-anaknya supaya disuruh untuk tidur. Ketika makanan sudah masak dan tamu datang, maka ia bangkit dan pura-pura menyetel lampu tetapi justru ia mematikannya. Ia dan istrinya berpura-pura ikut makan di dalam kegelapan dan sementara itu tamu pun makan sampai kenyang. Esok harinya, ketika Anshar berjumpa dengan Yang Mulia Rasulullah s.a.w., Nabi s.a.w. tertawa dan mengatakan, “caranya engkau berperi-laku tadi malam itu telah membuat Allah tertawa”.

D. ADAB BERTAMU DAN MEMULIAKAN TAMU

  • Adab Bagi Tuan Rumah

    1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ
      “Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ“
      Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)
    3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
    4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
      مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
      “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)
    5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:
      فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ
      “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
    6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
    7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
    8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
    9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
      مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
      “Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
    10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
    11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.
    12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,
      فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ
      “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)
    13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
    14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
    15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
      “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”
    16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.
  • Adab Bagi Tamu

    1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ
      “Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ“Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

      • Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
      • Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
      • Orang yang mengundang adalah muslim.
      • Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
      • Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
      • Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
    2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
    3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)
    4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:
      يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)
    5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
      إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ
      “Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)
    6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
    7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
    8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)
    9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
    10. Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
      كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ
      “Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari)
    11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:
      أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ
      “Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)
    12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

E. HUKUM MENJAMU TAMU

Terdapat beberapa pendapat di antara para ulama :

  • Hukumnya adalah sunnah bukan wajib.
    Ini merupakan pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi’i. Tetapi perlu diingat “sunnah” menurut mereka adalah sangat pantas untuk dikerjakan dan “makruh” itu sangat ditekankan untuk ditinggalkan. Bukan seperti anggapan sebagian orang bahwa sunnah untuk ditinggalkan dan makruh itu untuk dikerjakan.
  • Hukumnya adalah wajib.
    Ini merupakan pendapat Al Imam Ahmad dan ulama lainnya. Mereka berdalil dengan hadits Abu Syuraih Al Adawi, Rasulullah bersabda:
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ . قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَالِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya. Para shahabat bartanya apa yang dimaksud dengan jaizah itu? Rasulullah menjawab: jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah sahadaqah.” (Al Bukhari no. 6135 dan Muslim no. 1726, lihat Fathul Bari hadits no. 6135).Pendapat kedua ini terbagi menjadi dua pendapat; pertama adalah wajib satu hari saja adapun selebihnya shadaqah, sedangkan pendapat kedua adalah wajib selama tiga hari adapun selebihnya shadaqah.
    Al Imam Ibnu Rajab memilih pendapat pertengahan antara kedua pendapat tersebut. Yaitu; hukum menjamu tamu adalah tidaklah wajib kecuali bagi orang yang mampu memberikan jamuan kepada tamu. Beliau berhujjah (berdalil) dengan hadits Sulaiman , beliau berkata:
    نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا
    “Rasulullah melarang kami memberat-beratkan diri dalam menjamu tamu dari sesuatu yang diluar kemampuan.” (HR. Al Bukhari, Ahmad dan lainnya).

REF:

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html

http://artikelapasajalah.blogspot.com/2010/11/menghormati-tamu-dalam-islam.html

Kata kunci : doa selamat lengkap | kisah nabi sulaiman lengkap | cara cepat kaya menurut islam | kisah nabi musa lengkap | bacaan doa selamat lengkap | kisah lengkap nabi sulaiman | doa selamat panjang |
Pembahasan Lengkap Tentang Memuliakan Tamu Dalam Islam dan Adab Bertamu pendidikan islam 16 Des 2012. Pembahasan Lengkap Tentang Memuliakan Tamu Dalam Islam dan Adab Bertamu

A. PENDAHULUAN / MUQODDIMAH Masuk-islam.com – Islam mengajarkan setiap Muslim agar membangun hubungan baik, tidak saja dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Keharusan menghormati tetangga dan juga tetamu merupakan wujud dari doktrin sosial dan kemanusiaan Islam. Para pakar hadis, seperti Ibn Hajar al-Asqalani, Imam al-Nawawi, dan juga al-Manawi, sependapat bahwa menghormati tamu tergolong adab [...]

4.9 pendidikan islam

One comment on “Pembahasan Lengkap Tentang Memuliakan Tamu Dalam Islam dan Adab Bertamu

  1. coolis noer on said:

    thx infonya. insy. brmanfaat gan..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.